Kisah Perjalananku untukmu Bunda

Bulan
Sumber :
  • Space.com

Kembali kubuang pandanganku ke luar, mencari bulan. Tak kutemukan, bus berjalan memunggunginya. Kota kelahiranku masih berjarak ratusan kilometer, butuh sekitar 3 jam lagi untuk sampai di sana. Waktu selama itu lumayan lama jika kuhabiskan untuk ngobrol dengan seorang perempuan. Ngobrol dengan lelaki saja aku tak merasa nyaman. Andai kau masih hidup, apakah aku akan menjadi orang aneh seperti ini? Aku selalu menyendiri, menjauh dari lingkungan. Semua berasal dari rasa malu.

img_title Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

Dulu waktu TK, hanya aku yang ditunggui oleh seorang laki-laki, sementara teman-temanku ditunggui ibu, bibi, kakak perempuan, atau neneknya. Ayah terlalu memanjakanku, bahkan untuk sesuatu yang tak dilakukan seorang ibu. Ayah masih mengantarku ke kamar mandi, mencebokiku, memakaikan kembali celanaku, bahkan menyuapiku. Semua teman-temanku tahu, membuatku menjadi bahan olokan-okokan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kekhawatiran ayah yang berlebihan, membuat kesempatanku untuk keluar dari rumah semakin sedikit. Maka terbentuklah aku yang penyendiri dan suka berkhayal. Aku tak pernah menyalahkannya. Kusadar, menjadi ayah sekaligus ibu itu bukan hal yang mudah. "Mohon tunjukkan tiketnya!" seru seorang awak bus, menyadarkan lamunanku.

img_title Wahai Orang yang Tidak Berpuasa, Hormatilah Bulan Ramadan

Aku merogoh saku celana belakang untuk mengambil dompet. Tiket aku simpan di antara selipan uang yang baru kuambil dari mesin ATM. Kuberikan tiketku kepada awak bus, setelah memeriksanya ia mengembalikannya padaku. Tiket kembali kumasukkan ke dalam dompet. Tiba-tiba saja bus mengerem secara mendadak, membuatku terhuyung ke depan. Spontan tangan kupijakkan di kursi agar kepalaku tak terbentur. Namun, hal itu membuat dompetku terlempar sehingga isinya berhamburan.

Kupungut lembaran-lembaran uang dan beberapa kartu debit yang berceceran lantas memasukkannya kembali ke dalam dompet. "Ini punyamu?" tanya Tante Heni seraya memberikan sebuah foto. Itu adalah fotomu, bunda. "Terima kasih," ucapku sambil menerima foto yang sepertinya terlempar ke arah Tante Heni. "Cantik!" puji Tante Heni. "Pasti orang yang sangat spesial buatmu, ya?" Aku mengangguk. "Baru kutahu ada anak muda zaman sekarang nyimpen foto di dompet," Tante Heni tersenyum meledek.

img_title Jadi Dewa Mabuk Sehari

Mungkin ia menganggap foto itu pacarku. Menurut ayah, foto itu ia dapatkan ketika masih pacaran. Aku hanya tersenyum, mendengar ucapan Tante Heni. "Kamu pendiam ya?" tanya Tante Heni. "Persis anakku. Ia menjadi pendiam sejak tahu profesi ibunya." jelasnya. "Oooh!" seruku. Tante Heni memandangku lekat-lekat. Aku menjadi risih dibuatnya. "Ia tak mau mengakuiku sebagai ibu jika aku masih..." Pandangan Tante Heni menembus jendela. Cukup lama, hingga akhirnya kembali tersenyum padaku.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut