Sandal Jepit Kenangan Milik Om Dewo
- blogcontinentalshopping.blogspot.com
Ini hari pertamaku bekerja sebagai sopir. Tugasku mengantar pesanan ke semua pelanggan. Sebelumnya, tugas ini dikerjakan sendiri oleh Om Dewo. "Are you ready?" tanya Om Dewo seraya mencolek bahuku. Beberapa ibu-ibu tertawa mendengar pertanyaannya, kecuali aku yang merasa terancam kehilangan waktu untuk menikmati kopi.
"Gayanya sok English, tapi alas kakinya sandal jepit," ledek Ningsih kepada bapaknya. "Jangan salah! Ini sandal kenangan. Bapak memakainya baru tiga kali ini. Pertama waktu mengantar pesanan untuk pelanggan pertama menggunakan sepeda motor. Kedua waktu pertama kali mengantar pesanan menggunakan mobil. Ketiga sekarang ini, waktu bapak pensiun menjadi sopir. Pokoknya sandal ini dipakai saat momen tertentu," kata Om Dewo dengan mimik serius.
"Iya deh!” ujar Ningsih mengalah. “Sandal jepit ada yang harganya lebih dari lima puluh ribu rupiah lho! Bapak pasti tak percaya. Gara-garanya Sehun memakai sandal jepit waktu mau bertolak ke Korea, mengenakan sandal jepit Swallow. Kenal Sehun ndak? Itu lho anggota band EXO dari Korea. Ah! Pasti bapak ndak kenal. Sejak itu ada orang Korea yang menjual sandal jepit dengan harga lima ribu won. Itu setara dengan lima puluh delapan ribu rupiah," terang Ningsih.
"Sandal punya bapak lebih mahal dari punya Sikun," kata Om Dewo sedikit tidak terima. "Sehun, Pak! Kalau Sikun itu anaknya Haji Juned," ujar Ningsih meluruskan. "Terserah, mau Sehun atau Sikun pokoknya sandal punya bapak nilainya ndak terhingga. Ini sandal keberuntungan!" Om Dewo kelihatannya mulai kesal. Dahi klimisnya berkerut, mirip kulit jeruk nipis.
Aku habiskan sisa air kopi yang sudah tidak hangat lagi. Setelah menaikkan resleting jaket, aku keluar rumah, menuju garasi. "Sudah siap antar, Mus!" ujar lelaki yang tak kuketahui namanya. Ia salah satu karyawan yang sudah lama bekerja pada Om Dewo. "Pintu belakang sudah dikunci?" tanyaku. "Sudah!" jawabnya. Aku masuk ke dalam mobil. Melepas tuas rem tangan, lalu membawa mobil keluar dari garasi. Om Dewo menyuruhku berhenti. "Hari ini kamu santai saja. Duduk manis sambil mengingat rute dan tempat pelanggan," kata Om Dewo. Ia memberi isyarat agar aku bergeser ke sebelah kiri. Kubuka pintu mobil sebelah kanan untuknya, kemudian memberi tempat kepadanya dengan menggeser pantatku ke kiri.