Sandal Jepit Kenangan Milik Om Dewo
- blogcontinentalshopping.blogspot.com
Kami pun turun dari mobil. Om Dewo masuk ke gedung lewat pintu belakang. Aku pergi ke musala dan langsung masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah berwudu, aku melaksanakan salat dua rakaat. Ketika salam, aku terkejut karena mendapati Om Dewo berada di belakangku. Sepertinya ia tadi makmum kepadaku. Aku berdoa sejenak kemudian beranjak ke serambi, meninggalkan Om Dewo yang masih khusyuk dalam doanya.
Kubaringkan badanku, berusaha agar tetap terjaga. Meski sudah tersiram air, masih juga mengantuk. Hembusan angin pagi terasa sejuk, membuatku terbuai dalam khayalan. Aku berandai-andai jika bisa menjadi suami Ningsih pasti akan ikut mengelola usaha katering ini. Om Dewo tidak punya anak laki-laki. Jika aku menjadi menantunya itu akan menguntungkannya. Aku bisa menyetir dan bantu-bantu lainnya.
Ah! Kutepis angan-angan itu. Aku ingin seperti Om Dewo yang tak mengandalkan orang tua. Aku harus mencari sendiri jalanku dengan memulainya dari bawah. Namun, jika berjodoh dengan Ningsih, aku tak akan menolaknya. "Tadi aku meminta ampunan Allah. Setelah kurenungi, aku merasa telah berlaku sombong. Selama ini aku merasa semua yang kucapai karena usahaku sendiri. Kini aku sadar bahwa aku tidak bisa menjadi apa-apa jika bukan karena-Nya," kata Om Dewo.
Ia duduk bersila di sebelahku. Buru-buru aku bangun karena takut dianggap malas. "Pantas saja Om Dewo berdoa lama sekali," timpalku seraya merapikan baju. "Aku bersimpuh lalu berdoa agar Allah menegurku jika di hatiku masih tersisa kesombongan. Aku bersujud sambil menangis." Kupandang wajah Om Dewo. Matanya sembab. Sepertinya ia benar-benar habis menangis. "Ayo, kita bongkar muatan!" suruhnya.
Kami bangkit lantas keluar dari serambi musala. "Sandalku mana?!" pekik Om Dewo panik. Matanya diedarkan ke seluruh halaman musala. Berjalan ke sana kemari seperti orang kebingungan. Aku ikut membantu mencarinya. Namun, setelah kusisir seluruh area musala, sandal jepit kenangan Om Dewo belum juga ketemu.
Akhirnya terpaksa ia berjalan tanpa alas kaki. "Om boleh memakai sandalku," tawarku padanya. Om Dewo menggeleng pelan. "Biarlah sandal itu hilang. Selama ini aku memakainya di hati, bukan di kaki." Aku tersenyum, meski akhirnya kusadar bahwa betapa beruntungnya Om Dewo karena doanya telah dikabulkan. (Cerita ini dikirim oleh Akhmad Al Hasni, Kendal, Jawa Tengah)