Sandal Jepit Kenangan Milik Om Dewo
- blogcontinentalshopping.blogspot.com
Kaki kanan Om Dewo menginjak pedal gas berbarengan dengan melepas kopling dengan kaki kiri. Mobil melaju pelan, keluar dari halaman rumah, lantas melesat kencang di jalan raya. Kulirik arloji, baru jam setengah empat. Tadi aku bangun jam dua tepat, setelah alarm di HP menjerit-jerit dekat telingaku. Karena tak terbiasa, aku mandi sekadarnya saja. Hanya menggosok gigi tanpa sempat membersihkan badan dengan sabun karena sudah kedinginan. Selepas menyantap mie instant, aku langsung menuju ke rumah Om Dewo dengan jalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer.
Jalan kampung lengang. Hanya sesekali kami berpapasan dengan sepeda motor. Tak ada lampu penerangan di sepanjang jalan yang kami lewati. Janji pak kepala desa waktu pencalonan belum direalisasikan. Entah apa kerjanya selama dua tahun ini. Pemenuhan fasilitas umum yang menjadi isu sentral kampanyenya belum terbukti. Atau mungkin para warga yang tidak sabar?
"Sandal yang aku pakai adalah simbol perjuangan merintis usaha ini," kata Om Dewo membuyarkan lamunanku. "Setelah ini aku akan menyimpannya sebagai benda bersejarah dan ndak akan memakainya lagi,” jelasnya. "Oh," seruku malas. "Aku ndak akan pernah lupa ketika pertama kali mengantar pesanan ke pelanggan pertama. Waktu itu, aku masih menggunakan sepeda motor. Baru jalan beberapa ratus meter ban belakang bocor. Terpaksa aku menuntun motor sejauh satu kilometer ke tukang tambal ban. Sialnya, sandal jepitku putus talinya. Terpaksa tanpa alas kaki kususuri jalan tidak beraspal yang kondisinya becek. Mau ndak mau, aku beli sandal jepit baru di toko sebelah tempat tambal ban. Harga sandal lima ribu rupiah. Uang di dompet tinggal sepuluh ribu rupiah. Sisa lima ribu rupiah untuk membayar jasa tambal ban. Aku meneruskan perjalanan tanpa membawa uang sepeser pun. Sejak itu aku bertekad untuk membalas dendam kepada kemiskinan. Alhamdulillah dendamku terlampiaskan," kenang Om Dewo.
"Hanya satu mimpiku yang belum terwujud yaitu naik haji." ucapnya."Iya, Om!" ujarku. "Itu baru sempurna namanya." tambahku lagi. "Sebenarnya aku ndak dendam dengan kemiskinan," tukas Om Dewo. "Aku hanya ingin membuktikan kepada keluarga besarku bahwa aku yang terkenal nakal bisa berprestasi. Kau tahu sendiri kan kalau orang tuaku kaya. Semua kakakku sarjana. Mereka juga diberi modal usaha. Wajar kalau mereka bisa kaya. Sedangkan aku ndak tamat SMP. Aku dianggap bodoh dan bengal karena ndak mau sekolah. Aku lebih suka merantau. Sedikit demi sedikit aku tabung sisa uang gajiku bekerja di restoran. Setelah pulang kampung, aku membuka usaha katering. Meski jatuh bangun namun akhirnya kau bisa lihat sendiri aku berhasil," paparnya.