Sandal Jepit Kenangan Milik Om Dewo

sandal jepit
Sumber :
  • blogcontinentalshopping.blogspot.com

"Om ndak mendapatkan bantuan modal sama sekali dari orang tua?" tanyaku. "Tidak sepeser pun! Aku mencari sendiri, berjuang mulai dari nol!" jawab Om Dewo berapi-api. "Menakjubkan!" pujiku tanpa bermaksud menjilat. Aku memang kagum dengan perjuangannya. Ia tersenyum senang. "Mendorong motor yang belakangnya berisi boks itu bukan sesuatu yang mudah, apalagi tanpa alas kaki dengan kondisi jalan becek. Berat sekali rasanya karena ban belakang bocor. Maka itu kupikir tidak berlebihan jika sandal ini kuanggap simbol perjuangan." Aku menganguk-angguk, mencoba memahami perjuanganya.

img_title Keseruan Sahur di Mess Awak Kereta Parung Panjang

Aku masih muda, harus banyak belajar dari orang yang sudah sukses, seperti Om Dewo ini. "Jangan lihat sandal jepitnya, tapi perjuangannya!" tambahnya dengan menaikan intonasi nada. "Saya paham, Om! Tapi memakai sandal jepit kurang baik saat mengemudi. Bukan hanya akan menyulitkan pada waktu perpindahan antara menginjak pedal rem dan kopling saja, tapi juga akan mengurangi daya saat menginjak pedal gas," kataku menjelaskan. "Benarkah?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi. "Kamu tahu dari mana?" "Kata mbah google, Om. Dia itu tahu semua."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sepasang alis Om Dewo terangkat. "Mbah Gugel itu orang mana? Apa dia dukun?" Aku garuk-garuk kepala. "Bukan orang, tapi internet," jawabku. "Oohh!" seru Om Dewo berlagak paham. Aku menguap lagi. Sulit sekali menahan kantuk. Jika tidak mengobrol mungkin aku sudah tertidur. Kulihat Om Dewo tampak bugar. Barangkali karena ia sudah terbiasa, sedangkan aku harus beradaptasi lebih dahulu.

img_title Desa Bukan Hanya Sekadar Desa

Sampai di kota, langit berwarna jingga. Bulan yang mengambang kelihatan pucat. Fajar telah menyingsing. Kami berhenti di pelataran parkir sebuah gedung olah raga. Dilihat dari penataan dekorasinya sepertinya gedung ini akan dijadikan resepsi pernikahan. Di sebelahnya terdapat musala. Ada beberapa orang sedang duduk-duduk di depan rumah ibadah tersebut. Tampaknya mereka baru saja menunaikan salat subuh. "Saya salat dulu ya, Om?" pintaku. Kalau menunggu sampai selesai bongkar muatan, aku khawatir kehabisan waktu salat. "Iya, kamu salat saja dulu. Aku mau menemui pelanggan. Selesai salat jangan ke mana-mana. Kita langsung membongkar muatan," kata Om Dewo.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut