Memahami Hidup dari Sudut Pandang Seorang Indigo
Banyak yang menarik dalam buku ini. Salah satunya, beberapa wawancara dengan anak-anak yang teridentifikasi sebagai anak indigo. Bagaimana anak-anak itu mengemukakan pendapatnya tentang orang dewasa di sekitar mereka, tentang perlakuan orang tuanya, bagaimana mereka ingin orang dewasa memandang mereka.
Diselipkan juga beberapa teknik secara medis dan terapi malaikat yang sudah diterapkan oleh sang penulis kepada para pasiennya (khusus terapi malaikat dikembalikan pada kepercayaan masing-masing. Sebagai muslim saya akan kembali kepada tuntunan agama saya yaitu sesuai Alquran dan hadis). Saya hanya mempelajari dari sisi medisnya.
Mayoritas anak-anak indigo ini sangat sensitif terhadap jenis kebohongan atau kurangnya integritas dalam diri orang lain. Hal itu disebabkan mereka mempunyai apa yang disebut sebagai Spiritual Bull Shit Detector atau sejenis detektor kebohongan dalam diri mereka. Jika ketahuan berbohong, konsekuensinya adalah mereka akan berkata Anda berbohong dan mereka akan bertindak dengan cara agresi atau isolasi.
Alih-alih memperdebatkan sisi spiritualnya yang kadang orang awam pun tidak mengerti tentang mereka, lebih baik bagaimana mencari solusi menjalani hidup bermasyarakat dengan anak-anak Indigo ini. Karena sepemahaman saya banyak sekali yang menganggap dan mengarahkan anak-anak ini menjadi seorang paranormal. Padahal di buku ini dijelaskan banyak sekali potensi yang dimiliki oleh anak-anak indigo apabila pola asuh dan perlakuan sedikit diubah.
Di bulan Ramadan ini marilah kita saling mengintrospeksi diri. Saling menjaga hubungan bermasyarakat yang baik. Sambil menyelesaikan membaca buku karya Mrs. Doreen ini saya mendengarkan sebuah lagu karya Maher Zain yang berjudul Hold My Hand. Meresapi lirik dan memahami maknanya. Artikel ini saya tutup dengan quote dari salah satu penulis kesukaan saya, Pak Dwi Suwikyo, “Menulis adalah cara tersantun untuk menasihati diri sendiri,” salam takzim. (Tulisan ini dikirim oleh Yanthi Chan)