Aku, Istri yang Tak Pernah Kau Anggap

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Tidurku yang gelisah tidak pernah bisa kupaksakan nyenyak sampai dini hari. Di saat ayam berkokok karena terang bulan, jam sudah menjelang pagi, kau masih juga belum membaringkan tubuh kurusmu di sampingku. Saat suara azan di masjid kampung kita terdengar sayup, baru kau ketuk pintu dengan suara sangat keras. Sedikit saja aku terlambat membuka pintu untukmu, kau akan menurunkan tangan kasarmu ke wajahku. Kau bahagia karena itu? Sudah tidak terhitung lagi sifat egoistis kau limpahkan padaku.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Kita masih muda dan barangkali masih bisa menciptakan suka sesuai kemampuan kita. Tetapi kau tidak pernah mau mendengar ucapanku yang hampir kering di makan angin sepoi-sepoi teras rumah kita. Saatku berbicara, kau malah menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Kau lebih memilih menonton televisi dibandingkan mendengar suaraku. Kau tertawa begitu pelakon seni itu membuat lucu dan kau diam begitu informasi serius. Kau sudah kumiliki, kenapa masih memilih yang lain?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pilihanmu salah menurutku. Tanggung jawabmu hanya aku seorang bukan yang lain. Kau sudah mengikrarkan janji setia padaku, menjagaku setiap waktu, bukan membiarkanku sendiri dalam sepi. Kau sudah mencintai dia! Dia yang salah. Hidupmu bukan lagi di luar rumah setelah kau ketahui kedudukanku. Kau hidup tidak lagi sebatang kara, sudah ada aku yang menanti apa yang kau bawa pulang untuk mengisi perut kita.

img_title Driver Ojek Online Sedekah Jasa Antar Anak Yatim ke Sekolah

Cintamu pada dia yang selalu mengajak bermain permainan masa lajang sudah seharusnya kau tinggalkan. Kutahu, kau mencintai teman-temanmu. Kau berhak meluangkan waktu untuk mereka kapan pun, tapi tidak dengan kau tinggalkanku seorang diri. Kau habiskan waktu bersama mereka, tidak bekerja, pulang untuk makan saja, pergi lagi sampai lupa aku takut di malam-malam sunyi. Kau tidak memahami hatiku!

Kuajak kau menemaniku di sore menjelang magrib, kau selalu mengelak. “Aku malu membawamu ke mana-mana, kita tidak punya anak!” ucapmu. Demikian? Sekarang karena aku belum memberimu keturunan kau enggan membawaku bersamamu? Lalu mereka, teman laki-lakimu? Kau habiskan waktu bersama mereka setiap saat. Kau jalan mengitari waktu tanpa kenal lelah, juga tanpa seorang anak!

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Avi Choir Avicenna, Paduan Suara Cilik yang Penuh Prestasi
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut