Aku, Istri yang Tak Pernah Kau Anggap

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Aku sudah sangat kuat untuk menangisi nasib hidupku yang seakan bahagia telah diciptakan oleh laki-laki itu. Bahkan, menyebutnya sebagai suami saja sudah enggan kulakukan. Kewajibannya hanya aku, aku yang dinikahinya bukan teman laki-laki itu. Entah zaman sekarang sudah terdapat definisi bahagia dari persahabatan istimewa antara laki-laki. Entah, mungkin kau tahu ibu di rumah. Fisikmu tak terlihat sampai menjelang magrib.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Ibu pun pulang. Kau pun kembali membentakku karena tidak tersedia makanan untukmu. Semua sudah terlanjur. Kau ciptakan perkara ini sebagai luapan emosi tak berujung pangkal sehingga aku takut bersamamu. “Pernahkah kau bawa pulang bekal untukku masak?” ucapku. “Berani sekali kau membentakku?” hardiknya. “Kau sendiri berapa kali sudah membentakku?” tanyaku. “Aku suamimu!” bentaknya. “Aku istrimu!”. Kami saling tatap. “Dan aku tidak kau anggap sebagai istri,” ucapku lirih.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dari gaya berdiri di depan pintu, sepertinya kau akan segera lari dari pembicaraan kita ini. Tetapi aku, akan kulimpahkan semua kekesalan ini. “Larilah! Semoga teman laki-laki itu bisa memberimu keturunan!” Hidupku sudah tidak sempurna, berpisah denganmu pun akan membawa malu padaku dan keluargaku. Biarkan saja! Kau tak akan merasa kehilangan sebelum aku benar-benar meninggalkan rumah tangga berantakan ini! (Cerita ini dikirim oleh Bairuindra)

img_title Driver Ojek Online Sedekah Jasa Antar Anak Yatim ke Sekolah
Ilustrasi.

Pergilah Dinda Cintaku

Maafkan aku yang terlalu berlebihan mencintaimu.

img_title
VIVA.co.id
26 Februari 2018
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut