Dialog Budaya dalam Deklarasi Padepokan Joko Tole
Pertama, enggan mengaku orang Madura ketika berada di luar Madura. Ini menunjukkan rasa cinta dan memiliki terhadap pulau garam mulai merosot. Kedua¸ enggan berkomunikasi memakai bahasa Madura, lebih-lebih bahasa hulunya. Bahasa merupakan identitas yang seharusnya dijunjung tinggi. Tapi, rasa gengsi terutama mereka yang hidup di luar Madura ataupun daerah kota meski masih di Madura lah yang menjadi akar masalah akan munculnya rasa malu dalam menjadikannya sebagai bahasa sehari-hari. Ketiga, paradigma masyarakat luar Madura, bahwa kehidupan orang Madura keras dan kematian menjadi solusi setiap masalah dengan referensi budaya carok.
Pemateri kedua Bapak D. Zawawi Imron dengan kocaknya mengajari beberapa syair Madura kepada para peserta. Ia juga memaparkan bahwa bahasa sangat penting dalam proses mempertahankan budaya-budaya lain yang dimiliki oleh Madura. Jadi, orang Madura harus memulainya dari proses mempertahankan bahasa.
Karena itulah Pak D mengajari mereka beberapa istilah-istilah yang mengandung sastra begitu dalam yang diciptakan oleh orang Madura terdahulu. Salah satu istilahnya yaitu “Gencang tak nyapok bilis, keras tak akeris” yang artinya cepat berjalan, tapi tidak menang atau bisa mendahului semut, dan keras, tapi tidak setajam keris.
Tak jarang, ia juga mengajari para peserta tentang bahasa-bahasa yang sudah tak lumrah dipakai di Madura, seperti soklah lalu disandingkan dengan kata ate, menjadi ate se soklah yang artinya hati yang begitu sangat bersih atau bersinar. Banyak peserta yang mencatat beberapa bahasa yang mulai terlupakan. Keseriusan dalam menyimak juga tampak diraut wajah para peserta.
Beberapa pertanyaan yang menampar juga disampaikan olehnya di sela-sela penyampaian materi. Seperti, “Apakah Sumenep masih pantas menjadi episentrum budaya Madura, jika penyusun muda kamus besar bahasa Madura orang Bangkalan? Apakah Madura masih mampu mempertahankan budayanya, jika beberapa lomba tingkat provinsi yang berbahasa Madura dimenangkan oleh orang luar Madura? Saya rasa butuh rehabilitasi rasa kecintaan terhadap budaya dan penanaman terhadap generasi penerus (anak-anak),” imbuhnya.
Di penghujung penyampaiannya, Pak D juga berpesan kepada para penerusnya jangan menjadi budayawan yang bermental peternak. Peternak akan merawat ternaknya untuk menghasilkan uang. Tapi, budayawan bukan untuk menghasilkan uang, melainkan mempertahankan eksistensi budaya tersebut, memperbaiki jika terdapat kesalahan, dan memperkenalkannya ke masyarakat luas.