Kasih Sayang Ibu Tergadaikan karena Uang
- Ibu
Ini awal Desember yang panas, dan kami menuju Jakarta yang lebih panas agar keinginan ibu tergapai. Ini bukan rutinitas yang biasa kami kerjakan. Berpanas-panasan di kota orang dan tak menemukan jalan tujuan. Kakakku dan aku tiap kali mengeluh karena panas dan kelaparan. Tapi bapak yang berjiwa malaikat seringkali membuat keadaan kita dingin seketika. Dan Ibu yang membuat keadaan seperti ini malah seketika membentak kami dengan tegasnya.
Bapak yang mempunyai kesabaran tiada batas akhirnya mengajak kita untuk beristirahat di warung makan. Hiruk pikuk suasana warung yang ramai membuat ibu tersenyum sumringah. Aku yang berada dalam keadaan sekolah dasar mulai bisa membaca tentang kondisi orang dewasa. Keesokannya ibu benar membuka warung kecil-kecilan di depan kontrakan kami. Dan bapak kembali bekerja seperti rutinitas awal menjadi pelayan bengkel. Walau bapak hanya menyediakan pelayanan semampunya sebab tak semua fasilitasnya terbawa ke Jakarta.
Senja memang tak selalu hadir sepanjang hari seperti apa yang aku inginkan. Mereka pergi saat purnama mencari. Bapak yang menyayangi keluarga sepanjang zaman kembali menyetorkan uang hasil usaha hari ini untuk ibu. Dan lambat laun akhirnya usaha ibu membuahkan hasil yang cukup sehingga kita bisa pindah ke rumah yang sedikit lebih besar dan rapi.
Ibu yang tak pernah sungkan kepada bapak dengan lancangnya menyuruh bapak untuk merapikan rumah. Kakak dengan tanggapnya menegur ibu, dan ibu dengan tanggap pula menjawab, “Kalau mau bantu Bapak, ya bantu saja. Tak usah kau menegur Ibu! Tapi hati-hati untuk membereskannya karena ini Ibu susah cari uang,” ungkapnya.
Dalam hati yang terdalam, kini pisau yang begitu mulus sedang dan baru tertancap dalam hati. Permata yang kami anggap indah memalingkan keindahannya pada hal lain. Ingin kukejar senyum hingga ke negeri Neptunus rasanya. Namun, kegagalan selalu menghadang dan bertandang di ujung mata. Bapak mulai sakit-sakitan, dan ibu yang tak sempat berbagi kasih hanya menyuruh kami untuk membelikannya obat warung. Kepalaku kembali sakit layaknya tertusuk jarum yang sangat perih.