Kasih Sayang Ibu Tergadaikan karena Uang
- Ibu
Ibu tak ingin pemasukannya berkurang dengan membawanya ke dokter. Aku dan kakakku yang ingin tahu lebih jelas tentang penyakit bapak yang akhir-akhir ini sering membuatnya pingsan. Kakakku yang kini sudah dewasa dan duduk di bangku kuliah mengajak kita untuk pergi dari rumah karena tidak kuat akan pemandangan neraka yang terjadi pada bapak. Ibu dengan senyum miris mengiyakan karena ketidakmungkinan hidup di Jakarta tanpa uang.
Tuhan, kini darah air mataku kembali berderas. Kami tinggal di rumah kontrakan yang lebih sederhana. Setelah tiga hari kakak mencari pekerjaan, akhirnya ia diterima menjadi sales dari sebuah produk yang cukup ternama. Bapak menyuruh kakak untuk sesekali menjenguk ibu. Kakak menjawab “Iya Pak, tapi nanti kalau uang aku sudah banyak.” Mungkin hinaan ibu masih terbayangkan di pikiran kakak.
Suatu ketika, tanpa pamit aku menjeguk ibu karena kerinduan tetap lancar mengalir. Tak terduga, ibu sedang berbaring lemah. Dan dengan kencangnya ia memelukku dan berkata, “Cepat kembali. Ibu malu, ibu kira kalian akan kembali sebab uang ibu, tapi ternyata tidak.” Dengan tangkasnya aku pun menghubungi bapak untuk segera kembali bersama Ibu.
Kini suara megah kembali aku dengar, dan mutiara indah itu kembali dapat aku pandang dengan sempurna. Khayalanku untuk hidup bahagia terus membawaku dan menyadarkanku bahwa menyatukan segala hal adalah kekuatan yang tak pernah ternilai. Karena aku yang tak mau mencari langkah lain dengan mengepingkan kebersamaan ini. (Cerita ini dikirim oleh Lutfiyah, Sumenep)