Relief Tugu Muda Mengisahkan Pertempuran Lima Hari Semarang
Pilar ketiga, relief 'Penyerangan'. Para pejuang terdiri dari angkatan muda dan badan kelaskaran di Semarang bergerilya malam hari. Menyergap melucuti tentara Jepang di pos-pos tertentu dan menyerang markas-markas Jepang terdekat.
Pilar keempat, relief 'Korban'. Banjir darah di Semarang, bergelimpangan jasad sepanjang Jalan Pemuda dan di perkampungan seperti Ngaglik, Kintelan, Lempongsari, Bulu, Tegalsari, Jomblang, Lemahgempal, Pindrikan, dan lain-lain. Bahkan Kampung Batik, hangus habis dibakar Jepang.
Pilar kelima, relief 'Kemenangan'. Menampakan suka-cita warga Semarang merasa menang. Ditandai permintaan gencatan senjata oleh Jepang pada 20 Oktober 1945. Meski di pinggiran kota pertempuran masih berkobar. Bahkan 75 tentara Jepang dihabisi oleh pejuang di Pedurungan.
Pemantik meletusnya PLHS diawali oleh sikap arogan tentara Jepang. Tidak mau menyerahkan senjata pada Badan-badan Kelaskaran kita. Jepang hanya akan menyerahkan peralatan perangnya pada tentara sekutu, di dalamnya membonceng serdadu Belanda. Para pejuang marah, mengadakan razia, mencegat/merampas senjata dan kendaraan perang tentara Jepang. Bersamaan itu muncul isu, reservoir air minum bagi warga kota di Siranda, Semarang, ditaburi racun oleh tentara Jepang.
Malam hari, Dr. Kariadi, kepala purusara rumah sakit Semarang dan sopirnya yang seorang tentara pelajar berniat mengecek reservoir Siranda. Baru tiba di Jalan Pandanaran, mobilnya diberondong Jepang. Dr. Kariadi (40 th) dan tentara pelajar sopirnya pun gugur.
Gugurnya Dr. Kariadi dan beberapa insiden lain dimana Jepang tak menggubris kehendak para pejuang memicu meletusnya PLHS. Warga Semarang lewat PLHS telah menorehkan sejarah perjuangan melawan penjajah. Tak kalah dengan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah) Â