Pengorbananmu Menjadi Sumber Kebahagiaan Kami
VIVA.co.id – Bunyi yang khas terdengar ketika suara lembut menyapu kesunyian dalam mimpi untuk segera membuka mata mengucap syukur. Karena bisa kembali bernapas dengan rutinitas kehidupan menunggu ketika mata lelah ini membuka. Aisah, sapaan yang dilampirkan di akta lahir beliau. Yang tidak lain adalah ibu yang amat saya kagumi dan cintai dengan segenap jiwa dan raga saya.
Wanita kelahiran Bogor, 12 Agustus 1973 ini memiliki tekad yang amat sangat kuat untuk tidak mengulang kesalahan lampau terulang kembali kepada anak-anaknya. Beliau yang saat ini sudah memiliki dua orang putra dan putri di usia 43 tahun, tidak hentinya membantu sang ayah mencari nafkah. Beliau tidak ingin hanya terdiam berpangku tangan hanya meminta kepada sang suami yang berprofesi sebagai pendamping desa di salah satu kecamatan di Bogor.
Dengan hanya bermodalkan ijazah tamatan Sekolah Dasar (SD), beliau mampu membantu ekonomi keluarga sederhana ini. Sehingga anak-anaknya memiliki pendidikan dan kehidupan yang mencukupi. Beliau tidak ingin kejadian yang beliau alami terulang kembali kepada anak-anaknya yang tidak bisa menempuh pendidikan yang semestinya. Beliau hanya tidak ingin anak-anaknya memiliki tingkat pendidikan yang rendah sepertinya, yang hanya menjadi seorang buruh jahit di salah salah satu PT di daerah Cibinong.
Sakit ketika kita merasa tersakiti. Lelah ketika kita merasakan hal yang kita lakukan serasa sia-sia. Namun menurut beliau semua itu hanyalah bumbu kehidupan yang telah Tuhan ciptakan untuk kita. Dan kita sebagai hamba-Nya hanya bisa menjalaninya dengan sebaik-baiknya dengan kemampuan yang kita miliki.
Tidak ada kata selesai selagi kita masih diberikan napas oleh Tuhan. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semua orang itu dilahirkan ke kehidupan ini memiliki takdir yang berbeda-beda. Namun jika kita mau berusaha mengubahnya dan tidak menyerah, maka jalan Tuhan akan selalu indah pada waktunya. Kalimat ucapan yang amat sangat membantu saya saat ini dalam menjalankan tugas saya sebagai seorang anak, kakak, dan diri saya dalam memaknai kehidupan.
Dulu kakek saya adalah seorang penjual buah. Dan ibu saya merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Sehingga, setelah lulus SD, beliau harus membantu ayahnya (kakek saya) untuk mencari nafkah demi membantu adik-adiknya sekolah dengan layak dan nyaman. Beliau menyerahkan biaya pendidikan untuk adik-adiknya. Karena menurutnya, beliau adalah kakak, tulang punggung keluarga.