Semua karena Ayah
Pada tahun 1999, kami pindah ke daerah Kelapa Dua yang menjadi tempat tinggal kami hingga saat ini. Meskipun di awal kami tiba, ayah hanya menyewa kontrakan untuk tempat tinggal kami. Ayahku adalah seorang yang sangat penyayang.
Pada tahun 2000, saat aku baru berusia 4 tahun, aku selalu senang saat diajak ayahku untuk keliling menggunakan sepeda motornya yang dibawa dari kampung, sebelum ia berangkat kerja. Ayahku selalu berusaha untuk membuat anaknya senang sebelum ditinggal bekerja olehnya. Itu bermaksud supaya aku tidak rewel selama di rumah dan ayah bisa tenang saat bekerja.
Di saat ayahku pulang, aku langsung menghampirinya dan meminta untuk digendong. Aku belum paham apa yang ayah rasakan ketika itu, saat ia pulang kerja. Mungkin saja ayah begitu lelah saat itu, namun aku tetap saja ingin digendong saat ia pulang dan ia tetap menggendongku dengan penuh rasa sayang.
Pada tahun 2003, keluarga kami kedatangan anggota baru yaitu adikku, M. Gilang Andika Putra. Betapa senangnya ayah dan ibuku memiliki anak laki-laki setelah anak pertamanya adalah perempuan. Ayahku semakin bersemangat untuk terus bekerja supaya keluarganya bisa merasakan hidup berkecukupan.
Pria yang sekarang sudah berusia setengah abad ini memang memiliki sifat kerja keras. Memang rezeki tidak akan kemana. Setelah anak keduanya lahir, di perusahaan tempatnya bekerja, ayah mendapat kepercayaan untuk dinaikkan jabatannya. Dengan rezeki yang sudah ditabung sedikit demi sedikit, akhirnya ayah membeli tanah untuk dibangun rumah di dekat kontrakan tempat kami tinggal.
Saat itu ayah memang belum memiliki uang, jadi hanya tanah saja yang baru dibeli. Di keluarga kami memang hanya ayahku saja yang bekerja, jadi semua uang yang didapat adalah hasil kerja keras ayahku yang dibantu doa oleh ibuku. Ayahku melarang ibu untuk bekerja. Ia berkata, bahwa anak-anak membutuhkan kasih sayang seorang ibu supaya tumbuh menjadi anak-anak yang baik, dari keluarga yang baik pula.
Sekitar awal tahun 2005, dengan bekal uang yang dirasa cukup, ayahku dibantu oleh ibu merencanakan untuk membangun rumah dan menyicil material untuk membeli keperluan membangun rumah. Selama satu tahun lamanya, akhirnya istana kecil keluarga kami pun sudah berdiri dengan sempurna. Ayah dan ibuku tak henti-hentinya bersyukur atas karunia dan rezeki yang telah diberikan Allah SWT.