Sosok Petani yang Menjadi Kebanggaanku
- tembakau
Perlu diketahui, saya juga memiliki kakak angkat yaitu anak dari kakak kandung ibu saya yang telah ditinggal pergi untuk selamanya oleh orangtuanya di tahun 1986. Kakak angkat saya ini bernama Maemunah. Pada tanggal 10 Juli tahun 1987, ibu saya melahirkan anak pertamanya yaitu kakak kandung saya yang bernama Syaida Hendriani.
Menurut cerita beliau, perekonomian kami sangat pas-pasan kala itu. Bapak saya bekerja sebagai buruh demi kehidupan keluarga dan harus merawat 2 anak yang masih kecil. Namun bapak saya pantang menyerah dan tidak mengeluh atas apa yang ia kerjakan. Bapak selalu bersyukur.
Pada tahun 1990, mereka dikaruniai anak lagi yaitu kakak saya yang bernama Heri Andriyan. Pada saat itu bapak mulai berpikir untuk pindah ke daerah lain. Dan pada akhirnya, tepatnya pada tahun 1993, kedua orangtua saya memutuskan untuk pindah ke Bengkulu. Tepatnya di Kabupaten Mukomuko, Desa Tanjung Mulya, dimana saya dilahirkan.
Di sana bapak bekerja sebagai petani dan ibu sebagai penjahit. Ibu saya juga hanya bersekolah sampai kelas 6 SD. Di sana kedua orangtua saya dikaruniai dua orang anak, yaitu saya dan adik saya. Adik saya lahir pada tanggal 15 Maret 2005, dan saya sendiri lahir pada tanggal 23 Juli 1996.
Desa Tanjung Mulya atau tempat yang dijadikan transmigrasi di Bengkulu itu masih seperti hutan. Banyak orang yang ingin kembali lagi ke asalnya karena tidak betah dengan keadaan di tempat baru tersebut. Namun dengan tekad dari hati, bapak yakin inilah tempat yang diberikan Allah untuk bisa mengarungi kehidupan yang lebih baik ke depan bersama keluarga.
Setelah menetap di Bengkulu, Alhamdulillah ekonomi keluarga kami selalu tercukupi. Tidak seperti dulu yang selalu kekurangan. Hal tersebut adalah hasil kerja bapak saya yang tidak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Beliau adalah sosok bapak yang tak pernah mengeluh, rajin, dan semangat. Beliau selalu meluangkan waktu untuk bisa berkumpul bersama keluarga, untuk berbagi cerita dan bercanda.
Beliau tak pernah meminta hal lebih, dan beliau selalu menerima semua yang terjadi di kehidupan ini dengan keikhlasan. Bagi saya, beliau adalah harta termahal yang ada di hidup saya. Seorang bapak yang selalu sabar menghadapi sifat dan sikap dari kelima anaknya. Beliau adalah seorang bapak yang lucu, yang terkadang saya jadikan objek untuk tempat bergurau. Ya, terkadang suasana seperti itulah yang saya rindukan dalam keluarga ketika saya jauh dari mereka.