Sang Penakluk Takdir yang Tangguh
Menurut Kasruni, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta merupakan tetesan embun sejuk yang melembabkan tanah kering kerontang akibat kemarau. “Ya Gusti, paringono sabar,” ucapnya lirih. Sabar yang dimiliki manusia tetaplah memiliki ujung jalan. Luka robekan ini menyayat terus, hingga dalam, lalu menganga dengan hebat. Namun jahanamnya, suaminya justru meneteskan perasan lemon dan garam. Begitulah sakitnya batin Kasruni yang terus-menerus ia rasakan.
Pagi itu, Kasruni mencari tempat untuk meluapkan keluh kesahnya. Keluarga dari pihak Kasruni sudah tidak ada satu pun. Yang ia punya hanyalah keluarga dari suaminya. Namun, Kasruni tidak sudi menceritakannya. Ia takut keluarga dari pihak suaminya malah justru setuju.
Rasa kalut menyelimuti Kasruni. Karena setangguh apapun wanita ia tetap butuh orang lain untuk tempat bercerita tentang cobaan hidup yang sedang menggerogotinya. Perlahan namun mematikan. Kasruni memegang kepala dengan kedua tangannya. Kedua tangannya mengepal meremas rambutnya. Kasruni memejamkan mata dan berteriak. Namun tidak ada satupun yang dengar, tidak ada satu pun yang peduli.
Sejenak Kasruni menenangkan pikirannya. Pagi yang baik tidak menyambutnya dengan ramah. Sampai akhirnya Kasruni mengambil air wudu untuk salat zuhur, dengan kembali meminta kekuatan kepada Sang Khalik.
Siang yang kala itu sedang mendung, semilir angin dan daun keringpun menyambut Kasruni saat dia duduk di teras rumahnya. Saat itu, Kasruni sadar ia dapat menceritakan semua yang ia rasakan kepada Siti Awaliyah tetangganya. Tidak disangka, saran dari tetangga dekat Kasruni adalah menyarankan agar Kasruni pergi ke ibu kota bersamanya. “Cobaan karo uripmu alot neng Jepara, yuh bareng-bareng aku maring Jakarta, enda tua e ora penasaran,” (Cobaan dan hidup kamu begitu sulit di Jepara, ayo kita ke Jakarta biar tuanya tidak menyimpan rasa penasaran).
Singkat cerita, Kasruni akhirnya sama-sama berjualan di Jakarta. Namun setelah tahun kedua, Kasruni terpisah dengan tetangganya itu. Tetangganya tiba-tiba meninggalkan Kasruni saat mereka berdua sedang berbelanja kebutuhan dagangnya di pasar. Saat itu Kasruni menghubungi tetangganya, namun tidak ada balasan.