Bakul yang Setia Menemani Si Mbah di Usia Senja
Setiap hari saat ayam berkokok sekitar jam setengah 5 pagi, dia harus bangun. Sesudah melaksanakan salat subuh dia bergegas menuju pasar yang tidak jauh dari rumahnya untuk membeli bahan-bahan jualannya. Sekitar 15 menit jika naik angkutan umum. Sesampainya di rumah, bukan istirahat yang ia lakukan. Tetapi memilah-milah sayuran lalu mencuci dan membersihkannya.
Setelah itu dia pun lekas mengistirahatkan badan rentanya. Seusai terbangun dari istirahat, dia pun kembali bekerja dengan merebus sayuran untuk dijadikan pecel. Memotong sayuran sedikit sayuran sebagai campuran gorengan. Tidak terasa matahari sudah tenggelam, langit pun menjadi gelap. Suara kumandang azan magrib terbesit di telinganya yang merupakan panggilan untuk menghadap Sang Pencipta. Dia pun lekas salat tanpa terlambat sedikit pun.
Setelah menunaikan ibadah salat magrib dan isya, dia berangkat menuju tempat dimana ia biasa mangkal berjualan. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 19:40. Karena perjalanan dari rumah menuju tempat dia berjualan tidak terlalu jauh, akhirnya ia memutuskan berjalan kaki saja sambil menggendong bakul yang terisi penuh dengan pecel dagangan. Sesampainya di sana dia menghela nafas sedikit dan langsung menggelar dagangan.
Satu jam, dua jam, dia sudah menunggu namun belum ada pembeli datang membeli pecel. Cuaca saat itu memang sedang sedikit gerimis. Dia pun hanya bisa sabar serta pasrah terhadap keadaannya, tetapi tetap bersyukur. Akhirnya, setelah menunggu sekian lama datang juga pembeli. “Mbah, dibungkus 5 dong,” ujar pembeli tersebut. Dengan perasaan senang dan gembira dia langsung melayani permintaan pembeli tersebut.
Malam semakin larut. Tak terasa sudah hampir tengah malam tetapi pembeli terus berdatangan silih berganti membeli pecel dagangan mbah Ngatiyem. Bakul yang tadinya terisi penuh dengan gorengan dan pecel sayur tersebut mulai terlihat kosong karena sudah banyak dibeli. Mungkin hanya sisa dua atau tiga bungkus lagi dagangannya akan benar benar habis.
Perasaan senang terpancar dari raut wajah si Mbah. Mata yang berkaca-kaca dan sedikit candaan terlontar dari mulutnya saat melayani pembeli. Dia merasa sangat bersyukur dengan apa yang dia dapat selama ini. Walau hanya mendapat sedikit keuntungan bersih, yaitu sekitar 50 sampai 80 ribu rupiah itu tidak jadi masalah buatnya.