Bakul yang Setia Menemani Si Mbah di Usia Senja
Sejak berjualan sekitar 20 tahun lalu, banyak sudah pengalaman yang sudah dilewati. Dari tidak ada pembeli satu pun yang datang karena kondisi hujan deras. Serta kadang juga ada saja pemuda iseng yang tidak membayar pecelnya sesudah dipesan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran hidupnya bahwa hidup itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Melainkan butuh usaha dan perjuangan keras supaya dapat menjalani kehidupan.
Walau kadang hanya mendapat penghasilan yang pas-pasan, namun itu semua tidak menyurutkan semangat Mbah untuk menjalani kerasnya hidup di ibu kota. Sedikit demi sedikit disisihkan penghasilannya dari berjualan yang tidak seberapa itu. Tapi berkat tekad dan kemauannya yang keras, akhirnya dia dapat menyekolahkan kedua anaknya hingga ke tingkat perguruan tinggi.
Dia mempunyai dua orang anak yang semuanya laki-laki. Agus dan Eko sapaan akrab kedua anaknya. Mereka adalah anak yang rajin dan patuh terhadap orangtuanya. Agus berhasil menjadi anggota TNI, serta Eko berhasil bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Solo setelah berhasil menyelesaikan studinya beberapa tahun silam. Mereka semua sudah berkeluarga dan membina rumah tangganya masing-masing.
“Semua kerja keras dan jerih payah saya ternyata tidak sia-sia. Anak saya bisa jadi kebanggaan keluarga sepeninggalnya suami saya,” ujar Ngatiyem. Ketika itu dia pernah diajak anak-anaknya untuk tinggal bersama istri dan cucunya dan berhenti bekerja berdagang pecel. Karena anaknya sudah tidak tega lagi melihat orangtuanya yang tetap susah payah di usia senja. Tetapi ajakan itu ditolaknya secara halus. Karena dia merasa akan menambah beban saja untuk kedua orang anaknya bila dia ikut dengan mereka.
“Lebih baik saya hidup sendiri dan tidak menyusahkan mereka. Saya bisa dagang pecel ini kok walau untungnya tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari-hari dan modal berjualan di keesokan hari,” tambah Ngatiyem. Tak sampai di situ saja, di usia yang sudah hampir memasuki kepala delapan ini terkadang terbesit rasa lelah dan ingin berhenti berdagang. Tetapi tuntutan ekonomilah yang selalu memaksanya untuk lebih giat bekerja dan bekerja. Apalagi usia itu bukan usia produktif untuk bekerja.