Negara Dicambuk, Gus Dur Menangis

Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Sumber :
  • embunhikmah

Demikian halnya Indonesia, secara kuantitas mayoritas Muslim. Belum lama ini gempar dengan isu dugaan penista agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang jelas berbeda akidah alias non Muslim. Selanjutnya, di tengah-tengah hiruk pikuk mengenai isu penistaan agama ada kekhawatiran akan terjadi pergulatan antar umat beragama yang dilakoni mayoritas Muslim dan minoritas non Muslim. Sehingga tidak heran nama Gus Dur kembali mengapung di atas udara. Disebut-sebut sebagai solusi simbol perdamaian, kesetaraan dalam masyarakat Indonesia yang plural (beragam) atas dasar sesama manusia dan warga negara, serta pembela utama bagi kalangan minoritas.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Hal ini dibuktikan pada tahun 2004, saat Gus Dur diberi gelar “Bapak Tionghoa” atas kegigihannya membela pluralisme. Menurut Gus Dur, negara Indonesia bukan negara agama tapi negara beragama. Kalimat pendek tapi mengandung makna sangat dalam. Sengaja penulis pinjam demi mengobati satu dari 101 penyakit ibu pertiwi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di samping itu, Gus Dur dengan tegas dan komitmen bahkan ia berani mempertaruhkan nyawa demi Pancasila. Hal ini terbukti pada kutipan pernyataan Gus Dur yang pernah dilontarkan pada tahun 90-an. “Tanpa Pancasila, negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya perjuangkan dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah ia dikebiri oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi umat Islam,” ujarnya. Inilah jejak Gus Dur dalam memperjuangkan Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia.

img_title Driver Ojek Online Sedekah Jasa Antar Anak Yatim ke Sekolah

Mulai dari kalangan konglomerat hingga mereka yang melarat pastinya tahu Indonesia sebagai negara demokratis. Namun penulis ingin menegaskan bahwa nama demokratis yang kita anut itu adalah Demokrasi Pancasila yang berfungsi sebagai jalan hidup bangsa dan tetap berkelanjutan. Mirisnya, ada sekelompok kaum agamawan beraliran radikalisme yang dengan terang-terangan menghujat, menolak, dan mengkafirkan Demokrasi Pancasila. Bagi mereka yang penting adalah cinta agama dan buang jauh-jauh cinta tanah air.

Menurut analisa, penulis menduga inilah alasan mengapa Gus Dur seringkali menyampaikan dan menegaskan bahwa dalam hidup di suatu negara konsep ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) harus melampaui atau jauh lebih dipentingkan dari konsep ukhuwah islamiyah (persaudaraan umat Islam). Logika sederhananya, bagaimana caranya bersujud kepada Tuhan kalau tak punya tanah air? Gitu aja kok repot.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Avi Choir Avicenna, Paduan Suara Cilik yang Penuh Prestasi
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut