Negara Dicambuk, Gus Dur Menangis
- embunhikmah
Gus Dur selain dikenal sebagai tokoh pluralisme pejuang toleransi, ternyata dikenal juga memiliki humor segar, inspiratif, dan nyeleneh yang sering dinilai kontroversial, suka nakal, yang sudah pasti orang atau pihak tertentu bisa saja kesal. Contoh aktualnya adalah ketika Gus Dur “men-TK-kan” DPR dan ada sejumlah anggota dewan yang tersinggung saat itu. Tetapi kembali dengan gayanya yang khas kemudian mampu mendinginkan suasana. “Kalau sampai ada yang tersinggung ya saya minta maaf. Enggak usah marah-marahlah, kok repot-repot,” ujarnya kala itu.
Sosok Gus Dur sebagai Presiden Indonesia ke-4 dari tahun 1999 hingga 2001 yang kebanyakan dipandang sebagai tokoh kerukunan antar umat menyebabkan berbagai kalangan kurang mengetahui kepiawaian tentang gagasan ekonominya dengan konsep kerakyatan dalam menghadapi kesenjangan sosial pada saat itu. Konsep ekonomi kerakyatan ini diselenggarakan oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan dilakukan oleh rakyat kebanyakan yang kemudian menjadi tumpuan utama mendasar dari perekonomian makro.
Inilah resep racikan Gus Dur dan terbukti dalam kurun waktu 1,9 tahun telah membuahkan hasil mencatatkan dirinya pada sejarah kategori terbaik mengenai urusan membayar utang luar negeri sebesar 9 miliar US Dolar. Jika dibandingkan dengan pemerintahan Soeharto yang meninggalkan hutang 144,7 miliar US Dolar. Itulah yang menjadi pembeda. Berdikari Gus Dur sebagai cahaya namun diredupkan oleh nafsu politik bejat dan rakus kekuasaan.
Uraian-uraian sebelumnya mencerminkan perjuangan Gus Dur sapaan Abdurrahman Wahid yang telah membumikan Pancasila pada bumi ibu pertiwi. Bukan saja berlandaskan konsep asas atau sekadar teoritis belaka tapi beliau juga ahli praktisi. Ini terlihat saat menakhodai Indonesia sebagai Presiden ke-4 dalam menjalankan roda pemerintahan yang menjadikan Pancasila sebagai kiblat pergerakannya.
Terakhir, hemat penulis kepada kaum elit politik, kaum agamawan, pemerintahan, warga pergerakan, serta segenab seluruh rakyat Indonesia dalam hal ini sebagai ahli waris untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur agar senantiasa menanamkan nilai-nilai dasar Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Supaya tidak terinfeksi dengan virus predator biadab alias mereka si pencambuk negara. Sekali lagi saya ingin mengutip, “Indonesia negaraku, Pancasila ideologiku, jaya selalu bangsaku!” Save NKRI harga mati. (Tulisan ini dikirim oleh Jaya Nug Miharja, Makassar)