Hujan adalah Kekasihku
- U-Report
Hujan membawa berkah. Hujan adalah sahabat sejatimu. Kau amatlah bersyukur karena mampu hidup di negara yang memiliki dua musim ini. Saat proses kondensasi berubah menjadi presipitasi maka kau meloncat-loncat girang. Setiap hari dari bingkai jendela matamu nanar menunggu hujan. Jika langit sudah disetubuhi awan-awan yang hitam, kau keluar di halaman rumah. Berdiri dan berteriak.
"Terimakasih Tuhan. Kau turunkan hujan hari ini," katamu lalu bersujud syukur. Tak peduli jidadmu kotor dicium tanah. Tak peduli telapak kakimu dirayapi cacing yang saat ini kau injak. Tak peduli tetangga menatapmu gila karena keanehanmu yang bagaikan menjemput datangnya kekasih saat hujan turun.
Kau menari-nari di pusar halaman rumah. Bermain riang bersama air. Tak pernah berhenti meski flu merajai kepalamu. Membuat wajahmu lesu. Lagi-lagi kau terus setia dengan hujan. Kauanggap ia benar-benar kekasihmu. Sampai tak hiraukan kau diputus oleh kekasihmu karena terlalu lama mencumbu hujan.
"Bagaimana aku bisa hidup dengan pria sepertimu yang tergila-gila dengan hujan? Orang tuaku akan menganggapku gila. Aku memanglah mencintaimu. Tapi jika kamu masih seperti ini, maaf aku pilih untuk pergi. Tapi kekasihmu berhenti berkata. Sejenak ia seka air matanya. Kau terpaku menggenggam erat jemarinya.
"Aku tetap akan mencintaimu,"
"Kalau kau mencintaiku, maka pertahankanlah diriku,"
"Tidak bisa, aku tidak bisa jika kau masih setia dengan hujan!"
"Pergilah, aku tetap akan setia dengan hujan. Jauhi aku. Aku bukanlah lelaki yang pantas menjadi sandinganmu. Selamanya aku akan mencintai hujan. Aku akan setia dengan hujan. Karena hujan yang memberiku roh kehidupan. Tumbuhan yang aku makan akan subur karena hujan, dengannya ia membuatku hidup. Hujan mengalirkan air di dalam bumi yang menjadi mata air. Dengan itu aku bisa menyerapnya untuk kehidupan. Minum, mandi, mencuci, jikalau tanpanya aku akan lesu. Tak pantas aku memiliki perempuan yang tak suka dengan hujan. Sebaiknya kau pergi saja. Hujan adalah segala-galanya bagiku. Hujan pulalah yang bisa membuatku makan. Mengapa kau mempermasalahkan hujan jikalau kau mencintaiku?" rajukmu sambil menatap paras kekasihmu yang lembut, putih mulus dibaluti bedak dan gincu merah muda yang baru saja diimpornya kemarin.