Hujan adalah Kekasihku
- U-Report
Bukan pada kemanisan rupanya atau senyumnya. Lagi-lagi kau hanya memandang percikan hujan di atas aspal saat berhenti di samping lampu merah sebelum menyebrang. Hujan adalah seni menggairahkan yang tak membosankan pandanganmu. Bagimu hujan adalah bunga yang memantul di jejalanan aspal. Dan itu amatlah indah.
"Berapa, Mas?" ucap gadis itu. "Seikhlasnya saja," Gadis itu mengulurkan uang sepuluh ribuan. Kau mengantonginya di kemejamu yang rapi dibalut sweater abu-abu. Bersiap-siap kembali ke tempat yang tadi untuk mencari penumpang lain. "Mas, kembali sembilan ribunya mana?" Kau terkekeh sebelum akhirnya membalik tubuhmu. Kau ulurkan uang kembalian dengan kertas bernilai dua puluh ribuan. Tanpa menunggu respon gadis yang sudah masuk ke mobilnya itu, lalu kau lari kembali ke tempat semula sebelum lampu hijau menyala. "Ojek payung itu bodoh. Masak uang sepuluh ribu dikasih kembalian dua puluh ribu? Ah, dasar tak makan bangku sekolah. Hitung-hitungan tak becus," umpat gadis itu dari dalam mobilnya.
Wanita renta membawa kantung keresek dua melambaikan tangan ke arahmu. Penampilannya tak istimewa. Sederhana. Rambutnya dibalut kerudung serupa senja. Bajunya menutupi sampai dada. Ia tak memakai celana, melainkan rok panjang sampai bawah sana. Tak hirau air menggenang di kakinya membuat roknya basah dan dilumuri noda. Ia tetap tak mau menjinjingnya. Entahlah apa sebabnya. Sepertinya ia adalah wanita yang mulia.
"Nak, antarkan saya ke toko sebelah," katanya. "Baik, Bu." Bergegas kau menghampirinya dan mengantarkan sampai toko seberang. Sebuah toko buku yang dihiasi dengan pernak-pernik lampu menyambut natal. Indah mengagumkan retina. Tapi kau tak tertarik. Hanya hujan yang menjadi perhatianmu.
"Berapa, Nak?" tanya wanita itu. "Seikhlasnya saja," masih setia dengan ucapanmu yang awal. Selalu seperti itu jika kau ditanya berapa uang yang harus dibayar untuk menghargai jasamu. Wanita itu menyodorkan uang lima ribuan. "Minta kembalian tidak, Bu?" tanyamu. "Tidak. Simpanlah sisanya untuk jajan," katanya. Benarlah dugaanmu. Tampilan luar ternyata serupa tampilan dalam jiwanya. Ia tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih kepadamu.