Hujan adalah Kekasihku

Hujan.
Sumber :
  • U-Report

Hujan terus bersahut-sahutan dengan guntur yang suaranya menggelegar. Membuat jantung renta bergoyang-goyang tak beraturan. Awan berarak-arak menggelapkan nuansa indah. Mentari dikubur ketakutan. Kau tersenyum. Lengkung bibirmu malah bertambah jelas. Semakin ramailah orang yang membutuhkan ojek payungmu.

img_title Gubernur bersama Masyarakat Gelar Salat Istisqa dan Doa Bersama, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan

Tiga jam berlalu. Hujan sirna. Langit perlahan menerang. Awan hitam pulang. Tetesan hujan tinggal tersisa di atas asbes pertokoan. Air selokan tak lagi tumpah ke jalanan. Mentari yang tadi dikubur ketakutan, kini menyembul di balik awan putih. Wajahnya ceria sangat. Udara segar. Membunuh polusi meski hanya sementara waktu. Kau pulang dengan wajah yang sangatlah ceria.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hari ini hujan menguntungkan. Uang yang kau dapat kau masukkan ke tabungan. Begitulah kegiatanmu saat hujan terus turun. Dan terpaksa pekerjaan bersama kekasih hatimu hujan itu harus sirna. Lantaran Februari musim kemarau menyambut di ambang cakrawala. Apakah kau menangis karena ditinggalkan kekasihmu? Tidak. Kau tetaplah tersenyum.

img_title Tak Ada Hujan Lebat, Sulteng Diprediksi Terus Terik hingga Awal September

Saat kemarau datang. Lantas kau bongkar semua tabunganmu. Kau kumpulkan dalam kantong tanpa menghitungnya terlebih dahulu. Hujan berlalu, jadi pekerjaanmu mendapatkan cuti sejenak. Di musim hujan yang akan datang kau akan kembali seperti itu. Bekerja sebagai ojek payung yang mulia.

Senja mekar di dunia barat. Kala ini kau berjalan menuju sebuah yayasan sederhana yang ada di dekat rumahmu. Di situ kau berikan semua tabungan hasil mengojek hujanmu kepada para anak yatim piatu. Hujan membawa berkah bagi mereka. "Bu, saya punya tabungan untuk anak-anak yatim piatu, pergunakan dengan baik-baik ya, Bu?"

img_title Hujan Deras Jadi Penyebab Banjir di Kota Padang, Tim SAR Imbau Warga Waspada Bencana

Pemilik panti tersenyum manis. Kau lalu berjalan pulang ke tempat kerjaanmu seperti dahulu. Sebuah restoran besar yang ada di pusat kota. Saat hujan kau bermain-main dengan hujan. Saat kemarau datang kau berlibur dahulu di kursi pemilik restoran.

"Bagaimana restoran ini sewaktu musim hujan? Apakah ramai?" tanyamu. "Iya, Tuan. Saat musim hujan banyak penumpang yang mampir di restoran kita," jawab seorang waiter. Anak buah yang amatlah menghormatimu. "Hujan memang membuatku mampu makan. Aku senang sekali jika hujan datang," katamu lagi seraya menatap lurus ke jendela menyaksikan tenggelamnya mentari.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut