Hujan adalah Kekasihku
- U-Report
"Bukan itu, tapi dengan caramu makan karena hujan. Aku tidak bisa hidup seperti itu,"
"Sudahlah, payung adalah sahabat hujan. Dan hujan adalah anugerah bagiku. Pergilah, aku akan menjalankan rutinitasku saat hujan datang,"
"Tapi aku masih mencintaimu, apakah kau tak bisa mengerti perasaanku? Kau pilih hujan daripada aku?"
"Hujan adalah segala-galanya bagiku. Kau tak mampu membuatku hidup sementara hujan mampu membuatku hidup. Jadi, untuk apa aku pertahankan cintamu? Itu tidak masuk akal!"
"Kau gila!"
"Sebutan yang menarik. Sekarang, KAU PERGI!!"
Akhirnya kekasihmu lari menerobos hujan. Membiarkanmu terpaku dalam keheningan. Dan kini kau gila di bawah guyuran air hujan mengenang masa lalumu yang amatlah menyakitkan. Kau tepis bayangan tersebut dalam-dalam. Langkah kau berdirikan. Mengambil payung usai mengganti pakaian basah dan menyamarkannya dengan sweater tebal. Lantas kau menyusuri pusat keramaian.
Kau pasang wajah ceria di pinggiran jalan. Saat mobil-mobil orang kaya berseliweran di depanmu, di kala sepeda motor main kebut-kebutan, tatkala gelandangan memetik daun pisang untuk payung, atau di saat pengamen memayungi kepalanya dengan sebuah kantong keresek hitam, di situlah, tatkala itulah, kau memainkan aksi dengan kekasihmu, hujan. Berharap ada orang yang menyeberang jalan untuk menumpangi payungmu dengan senyuman atau malah mengajakmu bergurau.
Di sana kau kumpulkan koin-koin seribuan atau uang dua ribuan untuk lembaran tabungan dalam guci ayammu yang terbuat dari gerabah di rumah. Hujan terus memantul di jalanan. Air selokan seolah akan tumpah. Di depanmu tampak mall besar. Sedari tadi belum ada penumpang yang mau mempekerjakan dirimu. Begitupun kau tak mengeluh, kau tetap tersenyum dengan gelagak ceria. Bahkan terkadang kau bersiul-siul riang penuh suka.
Baru minggu lalu kau diputuskan kekasihmu yang mendekati tunangan. Namun, sama sekali tak ada duka yang mengendap di jiwamu. Menurutmu hujan adalah obat penawar yang paling mujarab saat ia memejamkan musim kemarau dalam kegalauan waktu.
"Mas, ke seberang ya!" pinta seorang gadis bermata sipit dengan rambut sebahu. Ia memakai dress merah. Telinganya digantungi intan dalam bentuk rembulan. Dua kelopak mawar yang tak bertulangnya dilumuri gincu merah padam. Kain yang dikenakan serupa awan itu menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Bau parfumnya menyengat. Namun, sama sekali kau tak tertarik.