Kesempatan Hidup untuk Suttan
“Kondisinya memprihatinkan sekali. Ibunya sudah tak bisa jalan. Lingkungannya juga semuanya orang tidak mampu. Tidak ada air bersih dan sering kebanjiran,” ujar Iwan. Dalam survei tersebut, Iwan pun mendapatkan kenyataan yang miris. Bahwa Suttan sempat ingin mengakhiri hidupnya. Maka Iwan pun menguatkan Suttan, agar Suttan mampu menghargai hidupnya dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan padanya.
Dari Suttan, Iwan pun mengetahui bahwa kondisi yang memprihatinkan tidak hanya miliknya, namun juga dirasakan oleh 30 keluarga yang ada di kampungnya. Maka, selain membantu Suttan, Iwan pun terpanggil untuk membantu warga di Jl. Kali Are tersebut.
Beberapa hari setelah survei, Iwan datang bersama timnya. Dengan senyuman, Suttan memapah ibunya untuk menerima santunan peduli sesama dari Rumah Yatim berupa uang tunai sebesar Rp200.000 dan paket sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Selain dia yang sudah terbantu, dia pun secara tidak langsung sudah membantu orang-orang di sekitarnya. Karena Rumah Yatim dapat menyalurkan dana bantuan sesama untuk warga di sana sebanyak 35 orang.
“Terima kasih Rumah Yatim dan para donatur yang sudah mau menolong saya dan juga warga di sini,” ucapnya kepada Iwan. Kini Suttan yakin pertolongan Allah itu ada untuknya. Kini dia bisa melewati hari-hari dengan lebih baik. Bantuan itu dia gunakan untuk membayar kontrakan yang menunggak beberapa bulan. Dan sembako tentu dia gunakan untuk kebutuhan pangan sehari-hari.
Setidaknya dia tak harus kencang memutar otaknya untuk beberapa minggu ini. Sehingga dia bisa berkonsentrasi mengurus kesehatan ibunya yang sudah sakit-sakitan dan berusaha mengajar dengan baik. Yang terpenting, dia pun kini tak memiliki niat kembali untuk mengakhiri hidupnya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)