Lansia, Prioritas Bantuan Peduli Sesama Rumah Yatim NTB
Ada satu lagi yang membuat Jajang merasa kagum akan keahlian dan usia yang dimilikinya, yakni Inaq Asan. Usianya kini 135 tahun dan dia kini hidup bersama putrinya yang juga sudah renta yakni 80 tahun yang bekerja sebagai buruh cuci. Mereka menjalani hidup dengan menggantungkan diri dari keahlian Inaq Asan yang sudah mulai pikun, yakni sebagai ahli pijit. Meski sudah mulai pikun, namun pasiennya sering kali datang untuk merasakan jasanya.
Ya, ada juga Salmah (92), Satar (85), Rannah (100), Icuk (90), dan Iccah (95) yang kini hidup sebatang kara tidak punya keturunan. Suaminya meninggal sudah sangat lama dan dia masih bersyukur karena suami tercintanya masih meninggalkan rumah. Sehingga dia kini menempati rumah itu.
Jumlah lansia yang begitu banyaknya di NTB menjadikan mereka mustahik yang benar layak untuk dibantu. Karena selain kondisi rumah mereka yang kurang layak huni, kondisi fisik mereka yang tidak memungkinkan untuk bekerja, tapi kondisi kesehatan pun juga menjadi persoalan bagi mereka.
Maka sudah sepantasnya bantuan Peduli Sesama ini diberikan kepada mereka. Agar mereka merasa dipedulikan dan bahagia. Seperti Inaq Jennah yang merasa senang atas kedatangan Rumah Yatim ke rumahnya. Di sela isak tangisnya, dia pun mengucapkan terima kasih dengan bahasa sasaknya. (Tulisan ini dikirim oleh Enuy Nuryati, NTB)