Santunan untuk Para Mustahik di Desa Sudimoro Magelang
Meski Diniyah merasa senang karena ada yang memperhatikan, namun tak lantas membuatnya setuju. Karena sangat berat baginya untuk melepas anak yang dia cintai jauh darinya. Ditambah putra pertamanya yang duduk di kelas 5 tersebut tinggal satu tahun lagi lulus sekolah. Meski begitu, sebagai bentuk kepedulian, Faizin tetap menawarkan hal tersebut tanpa ada unsur paksaan. “Jika kelak ibu berniat menitipkan anak ibu di asrama, ibu bisa langsung menghubungi aparat setempat. Biar nanti mereka yang menghubungi kami,” ucap Faizin kepada Diniyah.
Tak hanya Diniyah, ada juga seorang ibu yang terlantar. Hidup seorang diri di bagian rumah anaknya yang sudah permanen. Menurut keterangan Faizin, meski anaknya bersebelahan dengan rumah ibunya, namun kondisi si ibu yang tidak pernah diperhatikan oleh anaknya mengakibatkan ia hidup sebatang kara. Juga ada seorang kakek dengan penyakit yang dimilikinya, mengakibatkan dia tak mampu lagi melangkah. “Kami melaksanakan santunan ini door to door. Dari situ kami merasakan betul apa yang mereka rasakan,” ucapnya.
Perjalanan diakhiri pukul 13.30 WIB dengan memberikan santunan kepada 20 mustahik yang benar-benar layak mendapatkan bantuan. Pergi dengan penuh semangat dan pulang dengan penuh rasa syukur. Bersyukur karena sudah mampu melaksanakan amanah para donatur. Bersyukur karena masih bisa berbagi. Bersyukur karena kehidupan yang dijalani tim masih lebih layak dan lebih baik ketimbang mereka yang ditemui. “Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar,” tutup Faizin. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)