Kehidupan Pengrajin Bata Merah di Desa Transat Kalimantan
Untuk menuju tempat air, dia pun harus mengambil air di bekas galian yang sudah membentuk sumur besar. Itupun tatkala ada hujan. Jika musim kemarau terpaksa harus menumpang ke tetangga. Namun dia masih tetap bersyukur karena bosnya masih membolehkannya tinggal. “Yang penting teduh,” papar Mujinah.
Di rumah kecil yang bersebelahan dengan pabrik bata itu, dia hidup bersama keenam anaknya yang masih kecil-kecil. Anak pertamanya duduk di kelas 5 SD, dan anak bungsunya baru berusia tiga tahun. Meski memiliki anak batita, ibu yang ramah ini pun turut membantu perekonomian keluarga dengan membantu mencetak tanah liat menjadi bata.
Tak hanya pengrajin bata merah saja, Rumah Yatim Arrohman Indonesia cabang Banjar Baru, yang berada di Jl. Ahmad Yani km. 34 No. 43 Banjar Baru, Kalimantan Selatan pun memberikan perhatiannya dalam program pemberdayaan santunan biaya hidup ini kepada Sunardi, Asropi, dan Diman yang bekerja serabutan. “Program ini diberikan kepada warga kurang mampu, khususnya fakir dan miskin.” papar Hendiansyah, Kepala Asrama Rumah Yatim Banjar Baru. (Tulisan ini dikirim oleh Enuy Nuryati)