Suratinah, Potret Kemiskinan Petani Gunung Kidul
Kabupaten Gunung Kidul dihuni oleh mayoritas warga menengah ke bawah. Lahan tadah hujan mayoritas diisi sawah dan lahan perkebunan milik pemerintah. Sepengetahuan Arifin, wilayah ini hanya masuk bantuan berupa beras raskin dari pemerintah. Dan belum terdengar dari lembaga sosial lain yang menyambangi daerah ini.
Pertama kali mengetahui masyarakat miskin sebagai sasaran mustahik dengan menghimpun banyak informasi. Salah satunya mengakses Badan Pusat Statistik setempat secara online. Dari sanalah Arifin mempelajari kondisi ekonomi dan kependudukan Gunung Kidul dari data statistik. Ia pun melanjutkan surveinya ke kecamatan, hingga ke beberapa desa dan dusun. Tingkat ekonomi yang termasuk rendah saling berkaitan ke banyak masalah sosial dan budaya lainnya.
Suratinah masih terbilang beruntung, dibanding salah satu rekannya. Seorang janda yang ditinggal suaminya. Angka perceraian di sini terbilang tinggi, bahkan kerap ditemukan warga yang belum genap 20 tahun tapi sudah menjanda. Kasus pernikahan dini yang dipicu kehamilan di luar nikah tak jarang terjadi. Sungguh kenyataan yang sangat memprihatinkan.
Sampai di era ini, posisi perempuan dalam masyarakat masih dianggap ‘kelas dua’. Seolah menjadi lingkaran setan kemiskinan. Dimana perempuan dianggap percuma mendapat pendidikan karena perannya seputar dapur.
Melalui potret Suratinah, Arifin memanjatkan harapan munculnya kepedulian yang tak hanya mengandalkan dari penguasa saja. Lebih dari pada itu, kepedulian yang ikhlas datang dari setiap elemen di masyarakat yang akan memutus rantai penderitaan mereka. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)