Aku Terjepit antara Pulau Ternate dan Sulawesi
- PIxabay/Hermann
Semester dua sampai semester delapan, suasana ini masih tetap melekat dalam diri saya. Dalam kesendirian dan rasa rindu yang sudah teramat sangat ingin segera bertemu. Namun, belum ada kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Padahal menurut pendapat teman-teman saya, waktu Lebaran atau liburan puasa inilah momen yang tepat untuk bersilaturahmi dengan mereka. Karena belum tentu Lebaran berikutnya kita masih bisa bertemu dengan mereka.
Mendengar perkataan dari teman saya ini, saya pun mulai berpikir untuk pulang kampung. Namun, tepat di semester akhir pada saat momen penelitian saya untuk menyelesaikan S1, ibu saya meninggal dunia. Orang yang paling saya cintai dan saya kagumi kesabarannya.
Perasaan saya sudah mulai tidak menentu. Harus bagaimana agar saya bisa pulang. Tapi saya tidak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa. Memang ayah mengatakan kalau saya tidak perlu balik ke kampung, tapi saya mau pulang untuk melihat ibu. Kemudian ayah saya berkata, “Nak, bukannya Ayah tidak mau kamu pulang. Tapi Ayah belum ada uang untuk biaya kamu pulang, Nak,” ujarnya lirih.
Saya terdiam dan berkata dalam hati, “Ya Allah, beginikah nasib orang yang melarat? Hanya untuk mengejar cita-cita sungguh berat rasanya. Meninggalkan orang tua dan adik-adik bagaikan tumbuhan merindukan air,” ujarku.
Saya merantau kurang lebih hampir lima tahun di Kota Makassar. Meninggalkan keluarga dan adik-adik hanya untuk mengejar cita-cita. Sekarang saya dipertemukan kembali di momen bulan Ramadan untuk yang kesekian kalinya. Namun, momen ini saya juga belum bisa meluangkan waktu untuk bertemu ayah dan adik-adik saya.
Doa terbaik untuk ayah, adik-adik, dan keluargaku di kampung. Semoga kita selalu diberikan panjang umur dan sehat selalu. Tetaplah menjaga moto hidup kita, yaitu Allah lagi, Allah lagi, Allah dulu, dan Allah lagi. (Tulisan ini dikirim oleh Erwinmutalib, Makassar)