Mari Merajut Kota Masa Depan

Ilustrasi Kota Jakarta.
Ilustrasi Kota Jakarta.
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta

VIVA.co.id – Pernahkah kita menyimak sepintas kisah perjalanan Gulliver? Dalam salah satu kisahnya, Gulliver dipertemukan dengan negeri liliput. Di negeri tersebut, perbedaan Gulliver dan rakyat negeri liliput terlihat sangat nyata. Gulliver besar mengangkasa, sementara penduduk negeri tersebut mini menjengkal bumi.

Tentu saja, dalam dunia nyata, kita tidak akan pernah menemukan dunia Gulliver. Tetapi dalam konteks ketimpangan bisa saja kota-kota di masa depan akan bergerak tak ubahnya seperti dunia khayalan. Dimana yang miskin dan kaya bisa terlihat begitu nyata. Dunia Gulliver bisa saja terjadi di kota-kota masa depan jika fragmentasi kebijakan menjadi tegas berpihak kepada yang berpunya. Tentu ini adalah situasi yang tidak ideal.

Kota masa depan dimodel dengan perencanaan yang matang dan adil. Tidak memihak, tetapi melebur dengan kebutuhan masyarakat kebanyakan. Jika merujuk pada data dari World Urbanization Prospects, saat ini 54 persen dari populasi dunia berada di kota. Dan diproyeksikan pada tahun 2050 nanti, proporsinya akan meningkat 70 persen.

Secara khusus, pertumbuhan populasi kota terbesar 90 persen bersumber dari negara-negara di Asia dan Afrika. Sekarang ini, 70 persen dari total PDB dunia berasal dari kota, dan angkanya terus naik hingga 90 persen di tahun 2050. Dengan demikian, pengelolaan kota secara bijak akan membentuk masa depan dunia.

Lalu, bagaimana potret Indonesia ke depan? Apakah dalam keadaan baik-baik saja atau justru menjelma menjadi dunia Gulliver? Pada tahun 2016, World Economic Forum yang bertempat di Davos sudah menggemakan gong revolusi industri ke empat. Adalah revolusi dimana perkembangan teknologi digital menjadi jenderalnya. Sehingga kota di masa depan mesti tidak akan lepas dari perkembangan dan disrupsi digital.

Sebelum jauh mengkhayalkan bagaimana ke depan, ayo kita bercermin ke sejarah. Pada tahun 1933, Piagam Athena sejatinya telah memberikan petunjuk bagaimana membentuk kota yang ideal. Dalam piagam itu kita melihat bahwa kota harus memiliki lahan hijau, memiliki tempat untuk melakukan aktivitas kreasi dan kebudayaan, membuat jalur-jalur pejalan kaki yang nyaman dengan jalur transportasi yang membentang lancar. Menariknya, prinsip-prinsip ini tak akan lekang oleh zaman.

Masih sangat relevan, namun tentu dengan tantangan membentang lebar. Dalam buku 8 Mighty Megatrends-nya Ander Lindgren, beberapa tantangan tersebut berupa ledakan populasi, urbanisasi yang masif, konsumsi yang tak terkendali, pertumbuhan teknologi yang semakin liar, transformasi digital, konektivitas yang meningkat, degradasi lingkungan, serta pendapatan yang semakin timpang.