Mari Merajut Kota Masa Depan
- REUTERS/Beawiharta
Masih sangat relevan, namun tentu dengan tantangan membentang lebar. Dalam buku 8 Mighty Megatrends-nya Ander Lindgren, beberapa tantangan tersebut berupa ledakan populasi, urbanisasi yang masif, konsumsi yang tak terkendali, pertumbuhan teknologi yang semakin liar, transformasi digital, konektivitas yang meningkat, degradasi lingkungan, serta pendapatan yang semakin timpang.
Tantangan-tantangan tersebut, jika tidak dijinakkan hanya akan berujung pada dua kemungkinan, dunia Gulliver atau dunia Skynet. Sebelumnya, sudah dijelaskan secara singkat apa itu dunia Gulliver. Tetapi bagaimana dengan Skynet? Saya tidak akan menjelaskannya panjang lebar. Karena bagi Anda yang belum tahu dan penasaran, bisa menonton trilogi film Terminator. Intinya, di masa depan mungkin saja fungsi kemanusiaan akan digantikan dengan mesin. Atau dengan istilah lain, padat modal.
Dengan disrupsi digital yang sudah semakin mengemuka, bagaimana jadinya Indonesia? Bagaimana jadinya kota-kota di masa depan? Bagaimana nasib pekerja kita nantinya? Apakah mesin akan menggantikan mereka? Meski terjadi perluasan ekonomi dan kerja, kondisi lapangan kerja yang informal, yang kerapk ali dikenal sebagai pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan yang rendah serta kegiatan kerja bagi kaum muda (usia 15-24 tahun) pun masih belum berkembang.
Dari data yang ada, memang pengangguran di Indonesia telah mencapai angka yang cukup baik (5,81 persen dan 5,5 persen di tahun 2015 dan 2016). Tetapi jika kita melirik kontribusi pekerja keluarga yang tidak dibayar, data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah pekerja keluarga yang cukup signifikan yaitu 17 persen dari total pekerja. Dibanding dengan Jerman yaitu 0,6 persen dari total pekerja atau bahkan negara tetangga seperti Singapura yang 0,6 persen dari total pekerja Malaysia dengan 4,4 persen dari total pekerja, dan Filipina dengan 12 persen dari total pekerja.
Hal ini menunjukkan, bahwa masih cukup banyak pekerja di Indonesia yang belum dibayar secara layak. Apa alasannya? saya kira jawabannya cukup jelas, keterbatasan skill. Di Jerman, Federal Employment Agency memiliki anggaran yang besar sehingga bisa didukung oleh 133 ribu orang dibandingkan dengan 1.206 orang yang mendukung Employmnet Service dan Creation Dirjen Bina Penta. Angka ini bahkan lebih buruk ketimbang era sebelum otonomi daerah yang sebesar 2.033 orang.