Mari Merajut Kota Masa Depan
- REUTERS/Beawiharta
Selain skill mismatch, perusahaan tampak masih enggan untuk memanfaatkan jasa Employment Service. Mengingat birokrasi perintah yang masih sangat tidak efisien. Dari segi infrasruktur pun tidak kalah mengkhawatirkan. Mengingat peringkat Logistic Performance Index (LPI) Indonesia yang cukup buruk yaitu di peringkat 59 dan di wilayah ASEAN harus berada di bawah Vietnam (peringkat 53), Filipina (peringkat 52), Thailand (peringkat 38), Malaysia (peringkat 29) dan Singapura (peringkat 1).
![]()
Pembangunan kota pintar di IndiaÂ
Kota masa depan adalah kota yang didukung oleh infrastruktur yang memadai. Angka-angka ini tentu bukan hal yang menggembirakan. Jika demikian, masih adakah harapan ke depan? Kota di masa depan dibentuk oleh orang-orangnya. Bagaimana dengan infrastruktur, skill, dan indikator-indikator lainnya? Semua itu adalah syarat cukup.
Orang-orang yang bermukim di kota tersebut adalah syarat perlu, syarat utama. Artinya kita membutuhkan kombinasi Quadruplr Helix yang terdiri dari pemerintah, swasta, universitas dan masyarakat. Disrupsi digital yang menurut Lingren merupakan salah satu tantangan dan rintangan terbesar bisa diberdayakan untuk melakukan sebuah lompatan kuantum untuk membuka kota di masa depan. Tentu dengan berfungsinya Quadruple Helix tersebut.
Terbatasnya infrastruktur fisik bisa dikejar dengan inovasi digital, Project Loon Google misalnya. Tanpa harus menunggu lama, balon google bisa ditempatkan di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia sehingga bisa meningkatkan keterjangkauan. Bagaimana dengan keterbatasan keterampilan pekerja-pekerja di Indonesia? Apakah nantinya akan digantikan oleh mesin? Apalagi dengan era disrupsi digital seperti sekarang. Apakah mereka masih bisa bertahan? Jawabannya, bisa!
Sebagai contoh, pengemudi Gojek. Mayoritas mereka berpendidikan SMA ke bawah, dengan beragam profesi sebelumnya yang hanya membutuhkan skill terbatas. Tetapi bisa dikata, kini mereka menjadi pekerja-pekerja yang tech-savy dan melek teknologi. Contoh lain adalah petani-petani yang diberdayakan oleh I-Grow.
Apa itu I-Grow? Anda tahu game Farmville? Singkatnya, I-Grow adalah Farmville di dunia nyata. Petani-petani yang bekerja di I-Grow kebanyakan hanya lulusan SD. Namun jka melihat keahlian mereka, tentu Anda akan merasa kagum. Petani-petani ini diajarkan membuat pupuk organik dengan metode eksperimen. Dan mereka sangat ahli melakukannya. Suatu hal yang mungkin lulusan IPB saja tidak mungkin melakukannya.