Demokrasi dan Kualitas Pemimpin
- VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
Walaupun sistem terbuka ini membebaskan bagi siapa saja untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, bupati dan walikota, yang terpenting harus diusulkan oleh partai politik, tetapi partai politik harus mengedepankan rekrutmen yang baik. Tentu agar kualitas yang dihasilkan dalam mewakili rakyat lebih berkualitas.
Proses Demokrasi memang memerlukan pengorbanan. Saat ini, memang kita sedang mengalami transisi demokrasi. Dimana sistem demokrasi yang terbuka ini mengalami proses kekhawatiran yang mendalam. Terutama dalam menghasilkan individu yang berkualitas dan berintegritas.
Karena memang faktor dominan demokrasi terbuka mensyaratkan orang untuk terkenal, dan memerlukan biaya yang sangat tinggi. Ini yang menjadi persoalan mendasar kenapa orang yang berkualitas tidak terpilih karena kekurangan finansial. Sedangkan, orang yang memiliki finansial tapi kualitasnya biasa saja bisa terpilih.
Demokrasi langsung ini membuat kesempatan kita semua untuk mencalonkan dan dipilih semakin terbuka. Tetapi hanya sebuah keterbukaan yang terbatas. Dengan asumsi bahwa berpolitik itu mahal, dan yang tidak memiliki uang jangan berharap untuk bisa menjadi pemimpin. Ini asumsi yang berkembang di kalangan pemerhati demokrasi.
Harus ada upaya penguatan dari sistem agar keterbukaan yang ada saat ini tidak terbatas oleh materi atau finansial semata, yang cenderung menguntungkan pemilik modal. Mungkin bisa saja dilakukan, dimana peserta pemilu ataupun partai politik dibiayai oleh negara. Dan, infrastruktur untuk sosialisasi pun disediakan oleh negara, agar bisa muncul anak-anak terbaik bangsa ini. Baik di Pilkada, Pilleg, maupun Pilpres.
Kalau selama ini memang masih belum bisa memberikan warna itu, menurut hemat saya, ke depan Pemilu dan berdemokrasi harus terus belajar dari setiap prosesnya untuk pembenahan. Karena kita tidak mau kualitas demokrasi yang menghasilkan pemimpin bajakan bagi orang berduit semata. Kita berharap sistem demokrasi ke depan terus diperbaharui untuk menemukan konsep yang ideal, yang mewakili semua harapan kita bersama. Tentu dengan terus belajar dari pengalaman yang terjadi saat ini. (Tulisan ini dikirim oleh Deni Yusup, Jakarta)