Pestisida Nabati, Sebuah Solusi bagi Ekosistem

Ilustrasi/Petani di ladang sawah padi menyebarkan bubuk pestisida
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta

DDT marak digunakan pada saat Perang Dunia II untuk mengendalikan vektor penyakit malaria, tifus, kutu di tubuh, dan penyait pes. Setelah Perang Dunia II, petani menggunakan DDT untuk melindungi tanaman padi, gandum, dan jagung di Amerika Serikat dari serangan hama. Para petani beralasan menggunakan DDT sangat efektif dalam membasmi hama, tidak membutuhkan banyak biaya, dan tahan lama di lingkungan. Sehingga dapat menjaga tanaman mereka dalam waktu lama meskipun hanya dilakukan satu kali penyemprotan.

img_title Cinta dan Cemburu

Bagi petani, menggunakan DDT banyak memberikan keuntungan dari segi ekonomi. Tetapi penggunaan DDT dalam jangka waktu lama membawa dampak buruk bagi ekosistem. Terutama pada rangkaian rantai makanan di alam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada tahun 1950, dampak buruk dari penggunaan DDT terlihat dengan terjadinya penurunan populasi burung pelikan, elang tiram, dan elang yang merupakan populasi puncak dari jaring-jaring makanan. Penurunan populasi hewan tersebut disebabkan oleh bahan aktif DDT yang menurunkan kadar kalsium pada cangkang telur dari populasi burung tersebut. Dan menyebabkan telur tersebut pecah karena tidak mampu menahan tekanan dari tubuh induk burung yang mengeraminya. Pada tahun 1957, penggunaan DDT resmi dilarang penggunaannya oleh pemerintah Amerika Serikat.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Dampak buruk terhadap ekosistem yang ditimbulkan oleh pemakaian insektisida selain DDT sebenarnya masih banyak lagi. Seperti menimbulkan kekebalan terhadap populasi hama akan insektisida yang digunakan, memunculkan hama yang baru sebagai pengganti hama yang telah dibasmi sebelumnya, meracuni populasi hewan selain hama target sehingga terjadi pembasmian populasi ekosistem secara besar-besaran, tidak larut di dalam air sehingga proses penguraian bahan kimia harus melalui jalan yang panjang dan waktu yang lama, mencemari lingkungan abiotik sekitar, seperti air, tanah, dan udara.

Bagi manusia, secara tidak sadar racun kimia dari insektisida mengendap di tubuh manusia dalam waktu yang cukup lama. Bertahun-tahun bahan kimia mengendap di jaringan lemak manusia, dampaknya muncul penyakit kronis. Seperti kanker, gangguan saraf, gangguan genetik yang dapat diturunkan ke generasi selanjutnya, dan penyakit tidak menular lainnya.

img_title Driver Ojek Online Sedekah Jasa Antar Anak Yatim ke Sekolah

Dari berbagai macam dampak buruk yang telah dibuktikan melalui penelitian, para ilmuwan perlahan-lahan menemukan titik terang sebagai langkah penghapusan keberadaan insektisida beracun yang digunakan oleh petani untuk melindungi tanamannya. Pestisida nabati merupakan pestisida yang berasal dari tumbuhan yang mempunyai kandungan bahan aktif yang berfungsi sebagai pengusir hama, bahkan membunuh hama.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut