Mengenang saat Amunisi Mengamuk di Langit Cilandak

Ilustrasi ledakan.
Sumber :

VIVA – Malam hari merupakan waktu yang digunakan manusia untuk berkumpul, menikmati hidangan malam, menyaksikan hiburan malam, atau merajut mimpi bersama keluarga. Namun, tidak untuk malam hari pada 30 Oktober 1984 silam.

img_title Ledakan Petasan di Blitar Terdengar Hingga Kediri, Dikira Gunung Kelud Meletus

Sekitar pukul 08.00 malam, ketenangan di hari Selasa itu, tepatnya di wilayah Markas Marinir TNI Angkatan Laut Cilandak, Jakarta Selatan, seketika diambil alih oleh dentuman-dentuman luar biasa berbagai jenis amunisi yang meledak dan terlempar ke sana ke mari di udara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terdengar teriakan mengerikan orang-orang di sekitar lokasi kejadian. Mereka berlari ke sana ke mari menyelamatkan diri masing-masing dari ledakan dan hantaman amunisi yang dapat menarik paksa nyawa mereka.

img_title Dahsyatnya Ledakan Petasan di Blitar, Tubuh Korban sampai Terlempar 150 Meter

Peristiwa satu malam yang membuat seluruh badan gemetar dan bulu kuduk berdiri itu disebabkan karena meledaknya gudang amunisi milik Marinir TNI Angkatan Laut. Suara kencang akibat dentuman yang memecahkan gendang telinga tersebut, menjadikan satu malam yang tidak akan pernah terlupakan. Terutama bagi masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah Cilandak dan sekitarnya.

Peluru-peluru runcing berbahan besi terbang di udara melewati atas genteng rumah-rumah warga sekitar. “Pakde dan keluarga yang lain sedang beraktivitas sendiri-sendiri. Ada yang di kamar dan ada yang di ruang keluarga. Kemudian pas kejadian itu terjadi, kakek langsung memanggil kita semua dan disuruh kumpul di ruang keluarga untuk berdoa bareng-bareng meminta perlindungan,” cerita Bambang salah satu warga sekitar yang mengalami peristiwa mencekam tersebut.

img_title Labfor Polda Jatim Olah TKP Ledakan Petasan yang Tewaskan 4 Orang di Blitar

Bambang mengatakan, dulu dia bertempat tinggal di Kompleks Polri, Ampera Raya, yang tidak jauh dari lokasi peristiwa gudang amunisi yang meledak tersebut. Saat peristiwa itu terjadi, dia baru menginjak usia 17 tahun. Dia mengaku melihat samar-samar tetangganya yang berlarian keluar rumah sambil menjerit ketakutan seperti sedang melihat malaikat pencabut nyawa di hadapannya.

Kebanyakan mereka memilih mengamankan diri keluar rumah, karena sudah tidak memiliki tempat bersembunyi. Rumah pribadi mereka telah dibuat rusak oleh peluru besi yang merajalela. “Kita di dalam rumah udah bener-bener pasrah. Enggak tahu mesti berbuat apa lagi. Pokoknya cuma minta perlindungan dan mengharapkan yang terbaik, mengharapkan keselamatan,” sambung Bambang memperjelas keadaan pada malam itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut