Lirboyo dan Islah PBNU
- Dok. Pribadi
Dari aspek epistemologi pemikiran, Lirboyo mengajarkan kitab al-Mahally Qulyubi wa ‘Umairah yang di dalamnya berisi penjelasan fikih yang di setiap persoalannya terdapat khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara ashab as-Syafii (pengikut madzhab Syafii) atau perbedaan pendapat di internal madzhab Syafii dan kadang sedikit melipir ke pendapat ulama di luar madzhab Syafii.Â
Dari aspek realitas, saya ingat betul dulu waktu Mbah KH. Maemon Zubair seorang ulama besar alumni Lirboyo yang memilih istiqamah di partai PPP. Sedangkan mayoritas kiai masyayikh Lirboyo memilih PKB. Ada juga para kiai alumni Lirboyo yang memilih partai selain PPP dan PKB. Hal yang sama terjadi ketika Mbah Maimoen Zubair mufaraqah dengan PBNU di saat dipimpin oleh Gus Dur. Pada saat yang sama para kiai masyayikh Lirboyo tetap membersamai dan mengokohkan PBNU yang dipimpin Gus Dur.Â
Dari peristiwa-peristiwa itu menunjukkan kedewasaan masyayikh kiiai Lirboyo dalam menyikapi perbedaan dan tidak ada pemaksaan kehendak dan pandangannya terhadap alumninya. Para kiai masyayikh Lirboyo memberi kebebasan kepada para alumninya untuk memilih pilihannya sendiri dalam menyikapi NU dan politik. Berbeda tapi saling menghormati. Indahnya keragaman. Dan Lirboyo menjadi payung besar bagi para alumninya yang sangat beragam itu.
Source : TVNU
Saat ini perbedaan kembali terjadi dalam menyikapi pemecatan Gus Yahya dari ketua Tanfidziyah PBNU oleh Rois Am dan jajaran Suriyah. Â Sebagian para tokoh dan kiai alumni Lirboyo bersetuju dan mendukung pemecatan Gus Yahya dan mengokohkan supremasi Suriyah. Di antaranya KH. Anwar Iskandar, KH. Musthofa Aqil Sirodj, KH. Imam Jazuli, KH. Fakhrurozi, KH. Abdul Muiz Syaeruzi, KH. Jamaluddin Mohammad, KH. Dr. Faiq Ihsan Nashori, Ustadz Mohammad Sirojuddin, dan masih banyak tokoh alumni Lirboyo lain yang mendukung pemecatan Gus Yahya. Tetapi sebagian yang lain mendukung penyelesaian dengan cara islah dan mengembalikan lagi jabatan ketua umum tanfidziyah kepada Gus Yahya.Â
Kalau mengacu pada sejarah, maka perbedaan pendapat menyikapi soal pemecatan Gus Yahya, sebagian alumni Lirboyo mendukung pemecatan dan sebagaian alumni tidak mendukung dengan memilih jalur islah adalah pengulangan sejarah dan butuh kedewasaan seperti para masyayikh Lirboyo terdahulu dengan Mbah KH. Maemoen Zubair.