Lirboyo dan Islah PBNU
- Dok. Pribadi
Determinasi Personal dan Institusional
Mungkin dari internal Lirboyo ada yang berpihak ke salah satu kubu, baik ke kubu Gus Yahya atau kubu Rois Am KH. Miftahul Akhyar. Keberpihakan itu adalah sah dan bersifat personal, bukan institusional. Sebab sampai saat ini secara institusional Lirboyo tidak memberikan pernyataan resmi dan tidak dalam rangka dukung mendukung. Lantaran Lirboyo memiliki tugas utama yaitu mengaji. Selain mengaji dan hal-hal yang berada di luar dirinya adalah bukan bagian dari tugas Lirboyo secara institusional.
Barang kali Lirboyo memiliki tanggungjawab moral untuk ikut menyelesaikan kemelut yang sedang melanda PBNU. Sebagaimana pada tahun 1999 Lirboyo ditempati Muktamar PBNU yang dibuka oleh Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tanggungjawab moral diwujudkan dengan memerankan dirinya sebagai tempat teduh bagi semua pihak dan fasilitator yang netral tidak ikut kubu-kubuan. Atau Lirboyo menjadi tempat saja lengkap dengan fasilitasnya yang sangat memadai gedung dan tempat parkir yang sangat luas mendukung untuk acara-acara besar.
Agaknya jika ada salah satu tokoh yang berada di salah satu kubu maka itu atasnama pribadi, bukan atasnama Lirboyo sebagai institusi. Sehingga, Lirboyo sebagai institusi bisa terselamatkan dari framing, sakwasangka, dugaan sebagian orang, dan dari golongan yang ingin memanfaatkan untuk kepentingannya. Lirboyo tidak terjebak ke dalam pusaran konflik. Lirboyo berpegang tegung pada kaidah fikih, khurujan ‘ani al-khilaf mustahabbun (keluar dari konflik adalah disunnahkan).
Sikap netral Lirboyo disuarakan dengan lugas dan jelas oleh Gus KH. Dr. Adibussoleh, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo bahwa,
“Lirboyo membela Gus Yahya? Sungguh ini merupakan tuduhan dan suudzon terhadap maksud baik poro Masyayikh. Padahal seandainya Kubu Sulthan mau datang dalam Musyawarah Kubro di Lirboyo dan dapat membuktikan bahwa Gus Yahya benar-benar melakukan pelanggaran berat dan melanggar AD/ART yang punya konsekuensi untuk dimakzulkan, maka Lirboyo siap menjadi garda terdepan untuk mendukung keputusan tersebut. Jika tidak terbukti, maka islah adalah jalan terbaik demi marwah organisasi. Toh masing masing punya kesalahan (membuat gaduh organisasi Nahdlatul ULAMA)”.