Ahok Vs Anies Mana yang Lebih Baik Tangani Banjir DKI Jakarta?

Ahok VS Anies mana yang lebih baik tangani Banjir DKI Jakarta?
Sumber :
  • vstory

VIVA – Tidak ada habisnya banjir kali ini sering kali membanding-bandingkan antara gubernur sebelumnya, seperti halnya Jokowi-Ahok? Tentu semuanya punya cara yang lebih baik bagaimana cara menangangi banjir di Ibu Kota Jakarta ini. kali ini kami akan membedakan cara di mana atasi banjir dari versi Ahok dan cara atasi banjir oleh Anies Baswedan.

Sebelumnya kita ulas Pada tahun 1872 Jakarta yang dijuluki dengan "Batavia Onder Water" julukan tersebut karena Pemerintah serta Departemen Tata Air dan Pekerjaan Umum tidak berhasil menjalankan tugasnya alias gagal dalam menangani masalah banjir di Jakarta.

banjir jakarta 1972

banjir jakarta 1972

Tahun demi tahun terus bergulir Jakarta tak perah terlewat dengan banjir bahkan tercatat banjir terparah adalah pada era Gubernur Sutiyoso pada tahun 2007 yang menyebabkan 80 korban tewas dalam kurun waktu 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik hingga yang terjangkit sakit. banjir ini mengakibatkan warga mengungsi mencapai 320.000 orang dan kerugian mencapai Total 4,3 Triliun.

1.5 abad lamanya para pemimpin Jakarta terus berganti hingga teknologi yang mutakhir, namun tetap saja banjir datang, nah pertanyaannya sekarang bagaimana sih cara mereka dalam menangani banjir? Berikut adalah perbedaaan penanganan Banjir Jakarta oleh Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) dengan Gubernur sekarang Anies Baswedan.

Penanganan Banjir Jakarta oleh Anies Baswedan

Naturalisasi

Anies Baswedan memilih Naturalisasi sungai, menurut anies Naturalisasi sungai adalah pilihan tepat, dengan mengembalikan fungsi atau bentuk sungai sesuai peruntukan awal dan kembalinya ekosistem, dengan penataan bantaran sungai yang lebih ramah lingkungan.

Naturalisasi sungai

Naturalisasi sungai Jakarta

Membangun Kolam Retensi hingga bendungan di sejumlah titik perbatasan

Salah satu penanganan banjir berikutnya dengan cara membangun kolam retensi atau bendungan di senjumlah titik yang bertujuan untuk menghalau air yang masuk ke Jakarta dari hulu. Namun tidak hanya itu saja Anies juga membangun tanggul di kawasan pesisir yang akan menghalau masuknya air yang disebabkan oleh naiknya permukaan laut.

"masalahnya apa? masalahnya adalah volume air dari hulu tidak dikendalikan, lalu cara mengendalikannya dengan membangun bendungan untuk kemudian dialirkan bertahap, sehingga volume air yang turun ke pesisir itu akan bisa di kontrol," ujar Anies Baswedan saat wawancara.

Membangun Sumur Resapan

Solusi selanjutnya Anies baswedan turut melakukan pembangunan Sumur Resapan atau Drainase Vertical yang di bangun di wilayah jakarta dengan kualifikasi tanah yang mampu untuk menyerap air,  berikut manfaatnya :

sumur resapan di kawasan jakarta

sumur resapan di kawasan jakarta

1.Mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi

2. Dapat menambah potensi air tanah karena di samping menampung dan mengalirkan, dapat pula meresapkan sebagian air hujan ke dalam tanah, sehingga dapat membantu menjaga keseimbangan tata air dan menyelamatkan sumberdaya air untuk jangka panjang.

3. Dapat membantu mengurangi genangan banjir dan meluasnya penyusupan air laut ke arah daratan.

4. Mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, dan mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.

5. Pembuatan sumur resapan juga dapat menarik tenaga kerja dan proyek padat karya melalui program pemberdayaan masyarakat misalnya

6. Cara pembuatan sumur resapan tidak memerlukan teknologi tinggi

7. Dengan adanya pengaturan aliran air, diharapkan pencemaran air tanah dapat ditekan serendah mungkin

Sigi Berduka, Banjir Lumpur Terjang Desa Baka

Penanganan Banjir Jakarta versi Ahok


Normalisasi 

Bantuan Makanan dan Perhatian untuk Tenaga Kesehatan di Tengah Pandemi

Sementara itu Ahok memilih cara Normalisasi dengan cara melebarkan sungai dengan memindahkan warganya yang tinggal di sekitar bantaran sungai tersebut, setelah warganya direlokasi Ahok akan melakukan perubahan sungai dengan memasang betonisasi di pinggiran sungai, namun menurut Ahok butuh 3 tahun untuk melakukan semua itu mulai dari sosialisasi sebelum Relokasi warganya demi berjalannya Normalisasi sungai.

normalisasi sungai di kawasan jakarta

Rektor IPB Sodorkan Konsep Ekonomi Baru Era New Normal

normalisasi sungai di kawasan jakarta

Optimalisasi dan penggunaan Pompa

Ahok telah mengklaim bahwa telah membangun situ,waduk, embung, dan kanal untuk menampung air yang masuk ke kota. bahkan Ahok juga menitik beratkan kepada Optimalisasi dan penggunaan Pompa, Bahkan pada tahun 2015 Ahok meminta kepada seluruh camat lurah se-DKI Jakarta untuk memperhatikan pompa di wilayahnya masing-masing guna untuk antisipasi Banjir.

pompa sungai

pompa sungai

Membangun Sumur Resapan dan lubang biopori

Cara terakhir yang sama-sama Anies lakukan adalah membuat sumur resapan seperti halnya Ahok. Pembangunan yang dilakukan Ahok membuat sumur resapan yakni sekitar 200 lebih sumur resapan dan pembuatan 667 ribu lubang biopori diseluruh wilayah  DKI Jakarta. Nah, tidak hanya untuk atasi banjir tentunya dengan cara Biopori ada manfaat lainnya seperti :

pembuatan lubang biopori

pembuatan lubang biopori

1. Mengurangi Sampah Organik

Pembuatan lubang resapan biopori dapat mengurangi sampah organik dari rumah kita ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Karena ketika membuat lubang, salahsatu proses yang harus dilakukan memasukan sampah organik. Selain mengurangi sampah yang akan dibuang ke TPA pembuatan biopori juga akan membuat masyarakat bisa memilah antara sampah organik dan anorganik.

2. Menyuburkan Tanah
Ketika kita memasukan sampah organik kedalam lubang, akan terjadi proses biologis yang akan menjadikan sampah tersebut menjadi pupuk kompos. Dengan terbentuknya pupuk kompos didalam lubang, tentu akan membuat tanah menjadi lebih subur.

3. Membantu Mencegah Terjadinya Banjir
Dengan membuat lubang resapan biopori, dapat membantu air untuk segera masuk kedalam tanah, selain itu, sampah organik yang ada di dalam lubang merupakan makananan dari cacing tanah. Cacing yang masuk kedalam lubang akan membuat terowongan-terowongan kecil di dalam tanah ketika menuju kelubang berisi sampah organik. Hal ini tentu akan membuat air lebih cepat masuk kedalam tanah.

4. Mempengaruhi Jumlah Air Tanah

Terowongan-terowongan kecil yang dibuat oleh cacing akan meningkatkan luas permukaan tanah, hal ini tentu akan membuat kapasitas tanah untuk menampung air menjadi meningkat. Bahkan resapan lubang biopori ini mampu meningkatkan luas bidang resapan menjadi 40kali lipat.

Setiap Gubernur pastinya mempunyai cara tersendiri artinya mempunyai strategi dan ikhtiarnya masing-masing entah itu melajutkan program yang dulu atau membuat program yang baru, semuanya menjadi tanggung jawab mereka menjadi pemimpin Gubernur di DKI Jakarta.

Namun, kita juga harus turut untuk mengevaluasi, nah menurut Anda manakah yang lebih baik dan ampuh untuk tangani banjir saat ini di jakarta , Anies atau Ahok?


 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.