Psikologi Agama dalam Kehidupan

ilustrasi oleh pixabay.com
ilustrasi oleh pixabay.com
Sumber :
  • vstory

Sementara itu Jalaluddin Rahmat, mendefinisikan psikologi agama sebagai cabang ilmu yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi.

Psikologi agama kata Syaiful Hamali mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama seseorang. Di mana manusia berupaya menyembuhkan gangguan kejiwaannya melalui ajaran-ajaran agama, karena agama menawarkan suatu hubungan transendental terhadap sesuatu melalui pemujaan dan upacara-upacara keagamaan yang memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di tengah ketidakpastian, ketidakmungkinan dan kelangkaan yang dialami manusia dalam hidup dan kehidupannya.

Psikologi agama sebagai perangkat keilmuan sejalan dengan ruang lingkup pembahasannya mampu memberi sumbangsih dalam ikut serta menyelesaikan persoalan kehidupan manusia yang makin kompleks, khususnya kaitannya dengan agama dan pahamnya yang dianut menjadi keyakinan.

Selain itu, rasa keagamaan yang tumbuh dan berkembang pada setiap insan pribadi dalam tingkat usia tertentu, bagaimana perasaan keagamaan itu berpengaruh dalam ketenteraman batin manusia, atau konflik yang terjadi dalam diri seseorang sampai pada pribadi yang taat menjalankan ajaran agama atau sebaliknya meninggalkan ajaran agama itu merupakan fenomena yang didapati dalam psikologi agama ini.

Psikologi agama selanjutnya mampu memberikan gambaran yang proposional atas pengaruh paham dan keyakinan beragama yang mendorong masyarakat dapat hidup saling menghormati antar pemeluk agamanya. Hal ini tentu mengarah pada terwujudnya kehidupan yang selaras dengan kerukunan antar umat agama dan lintas agama. Melalui psikologi agama, dengan memahami perilaku keagamaan yang didukung motif tertentu, pendampingan dan pembimbingan manusia sebagai umat beragama mampu dilakukan dalam mewujudkan kehidupan yang selaras tersebut. (Muhamad Ikhwan Abdul Asyir, Manajer Program Al Wasath Institute, Formatur DPD IMM Jawa Tengah 2022)

 

 

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.