Nanti Kita Cerita Tentang Guru

Sumber : Shuterstock
Sumber :
  • vstory

VIVA – Sejak program sertifikasi diluncurkan di tahun 2005, profesi guru melejit dan naik kelas dari kelas “Oemar Bakrie” menjadi kelas menengah. Guru menjadi profesi idaman. Meme-meme “ menantu idaman adalah guru” bertebaran di mana-mana.  Maklum saja besaran tunjangan tersebut tidak main-main, satu kali gaji pokok. Guru-guru jadi makmur, sekolah penuh sesak dengan mobil-mobil mengkilat yang baru keluar dari showroom. Tentu saja hal ini membanggakan. Profesi guru tidak lagi dipandang sebelah mata.

img_title Trump Sesumbar Iran di Ambang Kolaps, AS Siapkan Sanksi Ekonomi Terbesar

Saya teringat masa-masa kuliah. Ayah saya seorang guru, kelima anaknya kuliah sarjana. Beliau harus menggadaikan SK PNS-nya di bank sampai kami semua tamat kuliah. Dulu di kurun waktu 90-an sampai awal tahun 2000-an belum ada program sertifikasi dan beasiswa juga belum banyak.  Walhasil yang diandalkan hanya gaji per bulan yang tidak seberapa dan untungya kami berlima bisa kuliah sampai tingkat master, membayar perjuangan ayah saya yang jatuh bangun menjadikan kami sarjana. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saya sangat bersyukur mempunyai orang tua guru, meskipun tidak kaya harta namun kaya buku. Kami semua diajar di rumah selain di sekolah. Ditanamkan kecintaan membaca buku. Tidak heran sedari kecil saya menjadi pengunjung setia perpustakaan sekolah dan perpustakaan wilayah di kota kecilku. Saya tumbuh di bawah naungan buku-buku yang dikenalkan oleh ayah saya yang guru. Meskipun tinggal di kota kecil saya tahu tentang Mozart, Chairil Anwar, HB Jasin, Piere Curie dan Marie Curie, presiden-presiden Amerika, bahkan saya baca buku ”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” waktu saya duduk di bangku kelas tiga SMP. Sepupu saya yang berkuliah di Jawa yang membawakan saya waktu libur kuliah. Begitu besar pengaruh ayah saya yang guru menanamkan kecintaan membaca.

img_title Tips Makan Shabu-Shabu dan Sukiyaki agar Daging Tetap Lembut dan Nikmat

Saya paham bagaimana rasanya menjadi anak guru. Sehingga ketika saat ini guru hidup berkelimpahan materi adalah hal yang patut disyukuri. Bagaimanapun, guru adalah napas penggerak pendidikan. Di tangan guru lah hitam putih wajah pendidikan kita ditulis. Ada satu masa di mana pesona guru-guru di Indonesia mengundang decak kagum negara tetangga. Malaysia, yang saat ini pendidikannya sudah berkelas dunia tidak luput dengan pesona guru-guru Indonesia di tahun 70-an.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut