Dokumen Rahasia AS Seputar Pembantaian 1965

Korban Kekerasan 1965 Unjuk Rasa di Komnas HAM
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVA – Sebuah dokumen milik pemerintah AS yang sudah dideklasifikasi mengungkapkan, Amerika tahu dengan detail terjadinya pembantaian di Indonesia yang terjadi sekitar tahun 1960-an.

Hacker China Bobol AL AS, Curi Data 'Naga Laut' dan 614 GB

Sebanyak 39 dokumen deklasifikasi yang sebelumnya diklasifikasikan itu berasal dari kumpulan file, catatan harian dan memo dari kedutaan AS di Jakarta selama periode 1964 hingga 1968. Dokumen tersebut dirilis oleh National Declassification Centre (NDC), sebuah divisi dari National Archives and Records Administration, pada Selasa, 17 Oktober 2017.

Dikutip dari http://nsarchive.gwu.edu, 17 Oktober 2017, dokumen itu mengungkapkan pemerintah AS memiliki pengetahuan dengan detil bahwa Angkatan Darat Indonesia melakukan kampanye pembunuhan massal melawan Partai Komunis negara (PKI) yang dimulai pada tahun 1965.

Dokumen 1965 Penting untuk Membuka Tabir Sejarah RI

Menurut dokumen yang baru diklasifikasikan dan dirilis oleh Arsip Keamanan Nasional di The George Washington University, dokumen itu menunjukkan bahwa para diplomat di Kedutaan Besar Jakarta mencatat bahwa pemimpin PKI telah dieksekusi, dan bahwa pejabat AS secara aktif mendukung upaya Angkatan Darat Indonesia untuk menghancurkan gerakan buruh yang tertinggal di negara tersebut.

Dokumen tersebut juga membahas salah satu bab yang paling penting dan bergolak dalam sejarah Indonesia dan hubungan AS-Indonesia, yang menyaksikan runtuhnya hubungan secara bertahap antara Jakarta dan Washington, sebuah perang tingkat rendah dengan Inggris mengenai pembentukan Malaysia, meningkatnya ketegangan antara orang Indonesia, Angkatan Darat dan Partai Komunis Indonesia, meningkatnya radikalisasi, Presiden Indonesia Sukarno, dan perluasan operasi rahasia AS yang bertujuan memicu bentrokan antara Angkatan Darat dan PKI.

Dokumen Rahasia Soal Pembantaian 1965 Belum Tentu Valid

Ketegangan di Indonesia meletus setelah usaha pengucilan Angkatan Darat oleh Gerakan 30 September - sekelompok perwira militer dengan kolaborasi beberapa pemimpin PKI. 

Setelah menghancurkan gerakan tersebut, yang telah menculik dan membunuh enam jenderal Angkatan Darat tingkat tinggi, Angkatan Darat Indonesia dan sekutu paramiliternya meluncurkan sebuah kampanye pemusnahan terhadap PKI dan organisasi afiliasinya. Membunuh hingga 500.000 pendukung PKI yang diduga antara Oktober 1965 dan Maret 1966, memenjarakan hingga satu juta lagi, dan akhirnya mengusir Sukarno dan menggantinya dengan Jenderal Suharto, yang memerintah Indonesia selama 32 tahun berikutnya sebelum dia sendiri digulingkan pada bulan Mei 1998.

Dokumen-dokumen dalam arsip Kedutaan Besar AS di Jakarta berkisar luas, mulai dari operasi harian KBRI hingga pengamatan politik, ekonomi, kebijakan luar negeri, urusan militer, konflik antara Amerika Serikat dan Sukarno, konflik antara Angkatan Darat dan PKI, Gerakan 30 September dan pembunuhan massal yang diikuti, dan konsolidasi rezim Suharto.

Meskipun sebagian besar dokumen dalam buku briefing ini menyangkut kejadian pada tanggal 30 September 1965, dan akibatnya, kami menyertakan beberapa orang lain untuk memberi pengertian tentang jangkauan dan kepentingan historis dari kumpulan yang lebih besar untuk pemahaman tentang konsolidasi yang lebih luas. dari rezim Suharto.

Diberitakan oleh BBC, 18 Oktober 2017, sebagian isi dari 39 dokumen menyebutkan, bagaimana staf Kedubes AS di Indonesia saat itu menggambarkan dalam telegram mereka tentang pembunuhan yang terjadi di seantero negeri. Kata 'pembantaian,' juga 'pembunuhan tanpa pandang bulu,' tertulis dalam telegram yang mereka kirim. Penyebutan dua kalimat tersebut, memperlihatkan pengetahuan yang mendalam tentang operasi tentara Indonesia untuk "membersihkan sepenuhnya" kelompok komunis dan kelompok kiri.

BBC, mengutip salah satu tulisan dari staf Kedubes di Jawa Timur, bertanggal 28 Desember 1965, "korban dibawa dari area ramai sebelum akhirnya dibunuh dan jasadya dikuburkan, daripada dibuang ke sungai." Telegram itu juga menyebutkan, tahanan yang diduga 'komunis' juga dikirimkan kepada warga untuk 'dibantai.'

Dokumen lain yang dikumpulkan oleh Sekretaris Pertama Kedubes AS, bertanggal 17 Desember 1965, juga memuat dengan terinci pemimpin komunis di seluruh negara, dan apakah mereka sudah terbunuh atau tertangkap.

Organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU bisa menjadi sangat tidak nyaman membaca laporan dokumen tersebut. Sebab, salah satu telegram atau kabel menyebut nama Muhammadiyah.

Pada Desember 1965, sebuah kabel dari konsulat AS di Medan, Sumatera, menyebutkan ulama Muhammadiyah menyampaikan kepada jemaahnya 'adalah perintah agama untuk membunuh mereka yang diduga berpaham komunis. Mereka adalah orang kafir terendah, dan harga darahnya sebanding dengan membunuh ayam.'

Telegram dari staf AS menggambarkan, ucapan ulama itu diinterpretasikan sebagai izin besar untuk melakukan 'pembunuhan.'  Sementara telegram lain menyebutkan, banyak orang yang tak berhubungan dengan partai komunis juga dibunuh oleh orang muda dari kelompok Nahdlatul Ulama karena 'alasan pribadi.'

Isi dokumen itu memuat lebih banyak lagi catatan mengenai konflik antara Angkatan Darat, PKI, Presiden Soekarno, dan kelompok Islam di Indonesia selama tahun 1964 hingga 1968.

Akhir tahun ini NDC juga akan merilis lebih banyak lagi dokumen deklasifikasi. Termasuk laporan dan dokumen dari CIA. (ase)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya