Kim In Kwon Beri Resep Jadi Aktor yang Sukses

Kim In Kwon
Sumber :
  • VIVA.co.id/Rintan Puspitasari

VIVA.co.id – Nama Kim In Kwon dalam dunia seni peran Korea cukup diperhitungkan. Ia adalah aktor pendukung yang menerima banyak penghargaan bergengsi di negeri K-Pop tersebut. Banyak film box office telah dibintanginya, seperti The Himalayas, Haeundae, Masquerade, Tazza: The Hidden Card, dan juga serial drama, yakni Please Come Back, Mister dan You're Beautiful.

Kim yang datang untuk menghadiri pembukaan Korea Indonesia Film Festival 2016 menggelar sesi wawancara eksklusif dengan beberapa media di CGV Blitz, Grand Indonesia, Jakarta, Rabu, 26 Oktober 2016. Simak wawancara VIVA.co.id bersama aktor Kim In Kwon tentang kariernya sebagai aktor pendukung terbaik.

Apa tantangan terberat saat syuting The Himalayas?
Pertama kali dapat judul film The Himalayas, sebenarnya sangat takut, karena tidak semua orang bisa pergi ke Himalaya. Daerahnya tinggi, tidak semua orang bisa ke sana.

Ada penyakit yang bisa muncul di ketinggian tertentu. Saya sempat merasakan penyakit itu, tapi menjadi sesuatu yang berkesan dan bermakna untuk saya.

Apakah melakukan riset untuk memerankan tokohnya?
Karena berdasar kisah nyata, saya datang dan sharing dengan keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, karena di Korea banyak orang senang pergi ke gunung, setiap bertemu komunitas pendaki gunung, semua orang kenal tokoh yang diperankan (Park Jeong-bok), jadi amat sangat mudah mencari tahu sosok dari film ini.

Selama ini sering berperan sebagai supporting actor, bagaimana Kim memaknai peran sebagai supporting actor?
Supporting actor menurut saya merupakan suatu hal yang penting dalam sebuah film. Karena tanpa supporting actor akan seperti masakan tidak ada bumbunya, hambar.

Jadi (supporting actor) bisa memberikan rasa, memberikan senyum, bisa memberikan rasa-rasa yang lain dalam cerita tersebut. Misalnya cerita sedih, tapi dengan adanya saya bisa membuat tersenyum, walaupun hanya sedikit.

Sebelum memilih peran, adakah standar tertentu yang ditetapkan?
Pertama filmnya harus seru, yang kedua, misal kalau anak-anaknya bisa nonton lagi saya pasti ikut di film tersebut. Supaya keturunan generasi selanjutnya bisa melihat saya ada di film tersebut.

Selama ini film-film yang dibintangi selalu sukses, apakah sudah tahu sejak awal saat membaca skenario?
Tidak ada seperti itu. Jadi waktu baca skenario hanya mengekspektasikan banyak penonton yang suka dengan film ini, tapi waktu syuting berjalan, saya tahu pasti akan banyak yang menonton dan suka.

Bisa sebutkan film favorit yang pernah Kim bintangi?
Film favorit yang paling teringat adalah film pertama Song Eo (Rainbow Trout), Haeundae (Tidal Wave), Gwanghae (Masquerade). Film Haeundae dan Gwanghae pasti semua masyarakat Korea sudah nonton.

Dan film Banga Banga (He's On Duty), film pertama saya sebagai lead actor dan bertemu aktor dari banyak negara, seperti Bangladesh, Uzbekistan, Indonesia, negara-negara lainnya. Kemudian yang terakhir The Apostle: He Was Anointed by God.

Pernah menyutradari film pendek, ada tidak keinginan untuk menjadi sutradara film panjang?
Banyak yang menawarkan jadi sutradara, tapi sejauh ini karena pekerjaan sebagai aktor lebih menarik untuk akting, jadi dikesampingkan dulu, sekarang fokus ke akting.

Apa peran paling disuka dan peran paling mirip kepribadian Kim?
Susah ya. Yang paling mirip Yakjangsoo (Clown of A Salesmen), karena film ini bercerita tentang kegiatan sehari-hari, jadi mirip saya. Tapi karena perannya mirip, jadi kurang seru, karena sama.

Peran paling seru adalah My Way. Ada foto saya berpose waktu My Way, saya taruh di rumah, besar. Itu yang paling saya suka, tapi tidak mirip dengan karakter saya.

Sering berperan jenaka, sulitkah mendapat peran serius?
Sudah syuting film horor dan berharap dengan peran di sana bukan cenderung humor tapi lebih serius, perannya dapat diterima baik masyarakat.

Adakah keraguan dari film maker atau sutradara memberi peran seperti itu (film Horor) pada Kim?
Dari pihak produser atau sutradara yakin saya tepat untuk mendapat peran di film tersebut. Tapi saya secara personal takut juga. Pertama karena takut sama setan juga.

Saat baca naskah, harus riset, terlalu menyeramkan skenarionya. Jadi tidak bisa nih sepertinya (sambil bertingkah seakan menutup dan menjauhkan buku naskah dari dirinya).

(ren)