TPS Horor Semarang Seram, Partisipasi Pemilih Naik 20 Persen

TPS horor di Gunung Brintik Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 27 Juni 2018.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Dwi Royanto (Semarang)

VIVA – Jumlah partisipasi pemilih di tempat pemungutan suara berkonsep horor di Kota Semarang, Jawa Tengah, saat Pilkada Jawa Tengah, ternyata cukup tinggi. 

Meski lokasi TPS berada di sekitar areal pemakaman, warga antusias datang untuk memberikan hak pilihnya. Tingginya partisipasi pemilih di TPS 07 RT 3 RW 7 Kelurahan Randusari, Semarang itu terlihat setelah hasil rekapitulasi suara selesai. 

Bahkan, jumlah partisipasinya paling tinggi di banding pada pemilu sebelumnya. "Naik 20 persen dibanding pemilu yang sudah ada sebelumnya. Kemarin warga benar-benar antusias datang," kata Ketua Panitia Pemungutan Suara TPS 7, Krisyanto, Kamis, 28 Juni 2018.

Krisyanto menyatakan, antusiasme warga ke TPS dengan konsep kuburan serta petugas kuntilanak, gederuwo dan pocong itu karena sejak awal warga penasaran. Dari total 340 pemilih yang terdaftar, total warga yang menggunakan hak pilih sebanyak 224 orang. 

"Artinya area pemakaman Bergota ini bukan hal yang seram dan ditakuti. Sama halnya di Pilkada ini tetap nyaman dan tak harus takut datang ke TPS," ujarnya.

TPS 7 Randusari atau dikenal dengan TPS Gunung Brintik menjadi paling unik dalam Pilkada serentak kemarin. Selain berada di perkampungan di tengah-tengah komplek pemakaman terluas di Semarang, konsep yang dipakai untuk melayani pemilih memang cukup berbeda dari TPS lain. 

Suasana TPS menjadi cukup seram dengan keberadaan seluruh panitia mengenakan atribut hantu seperti wewe gombel, kuntilanak, gerderuwo, pocong lengkap dengan keranda dan mayatnya yang ditaruh bersebelahan dengan dua bilik suara.

Di bagian depan, pemilih disambut dengan dua orang petugas Linmas yang memakai atribut misterius serta membawa sebilah tombak.

Saat memasuki TPS, warga harus mengisi daftar hadir yang disambut dua petugas perempuan yang dibalut make up kuntilanak. Mereka lalu  mengantre untuk mendapatkan panggilan mencoblos.

Ketika hendak mengambil surat suara, pemilih disambut dua petugas yang berperan sebagai makhluk genderuwo. Tepat di samping bilik suara terdapat keranda mayat dengan sebuah pocongan yang mirip dengan orang mati. Suasana pun tambah mistis dengan diputarnya musik ilustrasi horor di sepanjang waktu pencoblosan. 

Salah satu tokoh desa Randusari, Slamet Widodo menyebutkan, jika warga tak asal-asalan membuat tema horor di TPS 7 Gunung Brintik. Semua unsur yang dipakai sarat makna filosofi. Mulai tata rias dengan makeup profesional, serta aksesoris alami yang menggambarkan suasana seperti aslinya. 

Menurutnya, simbol kematian menggambarkan jika dalam kehidupan semua akan kembali pada yang abadi, yakni kematian. "Filosofisnya (TPS)  ini adalah area demokrasi dengan dilakukan senang hati, kemenangan dan kekalahan itu mutlak ada. Dan akhir manusia itu paling mutlak kematian jadi jangan ada saling ribut," ujarnya.