Mengenang Lima Pahlawan yang Diabadikan Jadi Nama Bandara

Bandar Udara Halim Perdanakusuma.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Dody Handoko

VIVA – Besarnya wilayah Indonesia yang terdiri dari 17 ribu pulau dari Sabang sampai Merauke membuat Bandar Udara menjadi salah satu infrastruktur strategis untuk memudahkan masyarakat bepergian antar wilayah.

Bahkan, sejumlah bandar udara (bandara) besar diberikan nama dari para pahlawan yang telah berjasa bagi bangsa. Hal itu, untuk mempermudah ingatan masyarakat dan juga mengenal lebih jauh pahlawan yang telah berjasa bagi bangsa Indonesia.

Untuk itu, di momen hari Pahlawan yang akan jatuh pada 10 November 2018, VIVA menampilkan kembali sejumlah Pahlawan yang diabadikan sebagai nama bandara di Indonesia dari berbagai sumber, berikut ulasannya:

1. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta

Abdul Halim Perdanakusuma, lahir di Sampang, Madura pada 18 November 1922, adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Dia meninggal dunia pada umur yang sangat muda yaitu 25 tahun saat tugas negara.

Dalam riwayatnya, Halim meninggal pada 17 Agustus 1947 saat perang kemerdekaan Indonesia-Belanda. Saat itu, Halim sedang menerbangkan pesawat dari Thailand ke Indonesia yang membawa berbagai senjata api.

Namun, akhirnya pesawat yang diawakinya bersama Iswahyudi jatuh di luar Tanjung Hantu, Malaysia dan menewaskan keduanya. Jenazah Halim saat ini sudah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah sebelumnya di makamkan di Lumut Malaysia.

Bandara ini beroperasi dengan nama Halim Perdanakusuma pada 17 Agustus 1952. Setelah sebelumnya diserah terimakan kepada Pemerintah Indonesia dari Belanda pada 20 Juni 1950.

2. Bandara Adi Sumarmo, Surakarta

Adi Sumarmo Wiryokusumo lahir di Blora, Jawa Tengah pada 31 Maret 1921 adalah seorang pahlawan nasional yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan udara Indonesia.

Diolah dari berbagai sumber, Adi Sumarmo adalah pendiri sekolah radio telegrafis udara yang pertama di lingkungan Angkatan Udara dan embrio dari sekolah radio udara hingga saat ini.

Adi Sumarmo meninggal pada 29 Juli 1947 saat berumur 26 tahun, setelah pesawatnya jatuh ditembak pesawat Belanda di dusun Ngoto, Desa Bangunharjo, Sewon Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Bandara ini beroperasi dengan nama Adi Sumarmo pada 25 Juli 1977. Bandara ini sebelumnya dibuka secara komersil pada 23 April 1974 yang dilayani oleh Garuda Indonesia dengan rute Kemayoran-Solo tiga kali seminggu.

3. Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai lahir di Desa Carangsari, Kabupaten Badung, Bali, 30 Januari 1917. Ia adalah pahlawan nasional dari Kabupaten Badung, Bali.

Jasa Ngurah Rai tercatat saat melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. Ia meninggal di Marga, Tabanan, Bali pada 20 November 1946 pada umur 29 tahun.

Bandara ini beroperasi dengan nama I Gusti Ngurah Rai pada 1 Agustus 1969. Peresmian nama bandara ini dilakukan oleh Presiden Soeharto. Sebelumnya, bandara ini diberi nama bandara Tuban.

4. Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya

Marsekal Pertama TNI (Purn) Tjilik Riwut lahir di Kasongan, Kalimantan Tengah, pada 2 Februari 1918. Ia adalah salah satu pahlawan nasional dan Gubernur Kalimantan Tengah pertama.

Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 108/TK/Tahun 1998 pada 6 November 1998 yang merupakan wujud penghargaan atas perjuangan pada masa kemerdekaan dan pengabdian membangun Kalimantan.

Tjilik Riwut adalah salah satu putera Dayak dari suku Dayak Ngaju yang menjadi anggota KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampaui batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa.

Ia meninggal di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987 pada umur 69 tahun. Ia adalah pecinta alam sejati dan menjunjung tinggi budaya leluhur.

Bandara ini sebelumnya diberi nama Bandara Panarung yang berdiri pada 1 Mei 1958. Perubahan nama bandara menjadi Tjilik Riwut dilakukan paa 10 Nopember 1988.

5. Bandara Sam Ratulangi, Manado

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau dikenal Sam Ratulangi lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 5 November 1890. Selama masa kemerdekaan Sam Ratulangi aktif dalam menulis artikel kritik kepada Belanda dan menulis artikel tentang Sarekat Islam dan memuji pergerakan Boedi Oetomo.

Sam Ratulangi dikenal dengan filsafatnya "Si tau timou tumou tou" yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sam Ratulangi meninggal di Jakarta, 30 Juni 1949 pada umur 58 tahun.
ia juga termasuk anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang menghasilkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dan merupakan Gubernur Sulawesi pertama.

Bandara ini awalnya dinamai sebagai Lapangan Udara Mapanget karena berlokasi di Mapanget pada 1942. Kemudian, untuk mengenang jasa pahlawan di Sulawesi Utara diubahlah menjadi Bandara Sam Ratulangi.