Era Digital, Prioritas Mana Offline atau Online?

CEO aCommerce, Patrick Vaz
Sumber :
  • VIVA/Mitra Angelia

VIVA –  Pada era digital saat ini, sudah menjadi kelaziman bagi ritel atau brand tertentu untuk terjun ke dunia digital. Hanya mengandalkan toko fisik saja tidaklah cukup, mengingat gaya hidup konsumen di era digital sudah berubah.

"Brand-nya harus ada dua, offline dan online, persentase berapa ya terserah brand itu," ujar Chief Executive Officer aCommerce, Patrick Vaz ditemui di Ayana Midplaza, Jakarta, Senin 27 November 2017.

Patrick menjelaskan, pemasaran secara offline tetap dipertahankan dengan pertimbangan hambatan jangkauan pengiriman. Menurutnya, tidak mungkin konsumen harus menunggu sampai 20 hari untuk barang sampai di tangan.

Kapasitas distribusi itu, kata Patrick, juga harus lengkap di seluruh wilayah Indonesia, baik dari segi distribusi maupun toko.

"Strategi brand harus ada bujet (pengembangan) untuk online juga, balance antara offline dan online," ujar Patrick.

Satu contoh brand lokal yang bergabung dengan aCommerce seperti Eiger. Head of Ecommerce Eiger Indonesia, Andrean Tendo mengatakan, mereka mulai merambah pasar online, tapi tetap mempertahankan pasar offline.

"Toko offline dan online harganya sama, keduanya saling mengisi kekosongan. Eiger baru mulai 1,5 tahun lalu online," ujar Andrean.

Kontribusinya pasar online, kata Andrean, sudah mendekati 2 persen, tahun depan Eiger menargetkan peningkatan 3 persen.

aCommerce merupakan startup yang menyediakan berbagai layanan pendukung untuk e-commerce seperti seperti logistik, pergudangan, hingga pemasaran. aCommerce menggiring brand lokal untuk 'go online'.

Sejauh ini, aCommerce sudah merambah bisnis ritel di Singapura, Indonesia, Thailand dan Filipina. aCommerce sudah berdiri sejak 2013. Baru-baru ini aCommerce di suntik dana oleh Emerald Media, dengan investasi US$65 juta atau Rp878 miliar.