Menanam Sukulen Sering Membusuk? Ternyata Salahnya di Sini

Sukulen
Sumber :
  • VIVA/ Sumiyati

VIVA – Sukulen menjadi salah satu tanaman hias yang menjadi primadona di masa pandemi. Tanaman yang mirip dengan kaktus ini banyak disukai lantaran penampilannya yang mencolok dan tak biasa. 

Selain itu, tumbuhan satu ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh subur meski dengan perawatan yang relatif minim. Belum lagi jenisnya yang sangat beragam, membuat sukulen makin digilai. 

Namun meski perawatannya tergolong minim, merawat sukulen bisa dibilang gampang-gampang susah. Jika tidak tahu triknya, tak sedikit yang mengeluhkan sukulen kesayangan mereka membusuk begitu saja. Lalu, bagaimana trik merawat sukulen? 

Owner Urban Plantae, Aqbas Udhiya Suwito, mengatakan, banyak yang berpendapat bahwa tanaman sukulen lebih baik didiamkan saja nanti tumbuh sendiri. Padahal menurut Aqbas, sukulen juga perlu diperhatikan. 

"Jadi, biasanya rata-rata kesalahan itu di penyiraman yang terlalu sering. Dan penyiraman di siang hari dan di-spray, itu yang menimbulkan jamur. Itu yang membuat dari akarnya sendiri membusuk," ujarnya saat pembukaan CL Urban Market di Mal Ciputra Jakarta, Kamis 18 Maret 2021. 

Photo :
  • shoppe

Aqbas menambahkan, jika ingin menanam sukulen, tempat terbaik adalah di teras, yang tidak terkena air hujan tapi tetap mendapatkan banyak sinar matahari. 

"Dan penyiramannya di samping, seminggu atau dua minggu sekali dan jangan di-spray. Kalo bisa waktu paling bagus pagi hari (penyiraman) untuk sukulen," kata dia. 

Lebih lanjut Aqbas menjelaskan, sebenarnya sukulen tidak masalah jika terkena air. Hanya saja, waktu penyiramannya harus tepat seperti yang sudah disebutkan di atas. Lalu, bagaimana dengan media tanamnya? 

"Dari medianya sendiri sebenarnya dia berbeda dari tanaman lainnya. Karena sukulen tidak mau terlalu mengikat air. Jadi, kita hampir jarang menambahkan tanah subur di media itu jarang banget," tuturnya. 

"Paling biasanya dari fermented pupuk dari kotoran kambing yang sudah dihaluskan atau tidak sama sekali, tapi sudah difermentasi atau dikeringkan. Biasanya kita mencari media-media yang mudah didapat di Indonesia aja," tutur Aqbas Udhiya Suwito.