Selfitis, Gangguan Mental Para Penggila Swafoto

Ilustrasi swafoto.
Sumber :
  • VIVA.co.id

VIVA – Sebuah riset menyatakan, bahwa 'selfitis' atau mengambil selfie atau swafoto secara terus menerus, merupakan sebuah kondisi mental yang benar-benar ada.

Dan sekarang, para psikolog telah merancang sebuah tes yang bisa Anda ikuti untuk melihat sejauh mana skala 'selfitis' Anda.

Istilah 'selfitis' pertama kali disebutkan pada tahun 2014 sebagai bagian dari tipuan artikel berita yang menyatakan, selfitis dianggap sebagai gangguan mental oleh American Psychiatric Association. Setelah itu, para peneliti di Nottingham Trent University dan Thiagarajar School of Management di Madurai, India, menginvestigasi apakah ada kebenaran dibalik fenomena ini.

Setelah memastikan bahwa selfitis benar-benar ada, para peneliti menguji kerangka untuk menilai tingkat keparahannya pada sejumlah relawan. Para peneliti mengatakan, ada tiga kategori, yaitu 'perbatasan', 'akut',  dan 'kronis'.

Selfitis perbatasan muncul ketika seseorang berswafoto setidaknya tiga kali sehari, tapi tidak mengunggahnya di media sosial. Sementara orang yang diklasifikasikan sebagai akut jika banyak swafoto yang diambil dan benar-benar diunggah di media sosial.

Anda termasuk dalam selfitis akut bila Anda merasakan dorongan yang tak terkendali untuk swafoto sepanjang waktu, mengunggah ke media sosial lebih dari enam kali sehari. "Studi ini bisa dikatakan memvalidasi konsep selfitis dan memberikan data tolok ukur untuk peneliti lain untuk menginvestigasi lebih teliti, dan dalam konteks yang berbeda," tulis Dr Mark Griffiths dari Nottingham Trent University dalam laporan penelitian seperti dilansir laman Daily Mail.

Griffiths melanjutkan, konsep berswafoto bisa berevolusi seiring waktu dengan semakin canggihnya teknologi. Tapi, enam faktor yang teridentifikasi yang muncul untuk menggarisbawahi selfitis di studi saat ini, berpotensi untuk digunakan dalam memahami interaksi manusia-komputer di seluruh alat elektronik mobile.

Skala yang bernilai dari 1-100 ini, dikumpulkan setelah sejumlah tes pada grup, yang difokuskan dengan partisipan berjumlah 200 orang. Tes ini melihat pada faktor apa yang mendorong kondisi selfitis. Kemudian, tim menguji skala itu dengan melakukan survei pada 400 partisipan.

Penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Mental Health and Addiction ini, dilakukan di India, negara yang paling banyak pengguna Facebooknya. Menurut penelitian yang dipublikasikan bulan Juli, India juga memiliki jumlah kematian berkaitan dengan swafoto yang tinggi, di mana seseorang tewas saat mencoba berselfie.

Para psikolog juga menemukan bahwa penderita 'selfitis' umumnya adalah pencari perhatian dan seringkali tidak percaya diri. Mereka sering mengunggah foto diri mereka dengan harapan bisa meningkatkan nilai diri mereka, dan merasa menjadi bagian suatu kelompok.

"Bersamaan dengan adiksi internet, konsep selfitis dan kecanduan swafoto dimulai dari sebuah hoaks, tapi penelitian baru-baru ini, termasuk penelitian sekarang, mulai secara empiris mengesahkan keberadaan gangguan," demikian hasil penelitian itu. (mus)