Lupakan Viagra, Akupuntur Bisa Cegah Disfungsi Ereksi

Ilustrasi Akupuntur
Sumber :
  • Reuters

VIVA.co.id – Kebanyakan pria memilih mengonsumsi viagra untuk mengatasi masalah disfungsi ereksi. Namun, jika khawatir akan kandungan viagra yang mungkin berbahaya, sebuah penelitian belum lama ini mengungkap bahwa pengobatan alternatif juga bisa bermanfaat bagi laki-laki dengan masalah disfungsi ereksi.

Dilansir Daily Mail, cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjalani akupuntur. Para ahli mengatakan, penting untuk mencari tahu, pengobatan alternatif apa yang bisa membantu menyelesaikan masalah serius pada pria ini.

Dan sebuah penelitian pun menyatakan, manfaat akupuntur tak hanya melancarkan peredaran darah dan mengatasi disfungsi ereksi. Tapi, terapi pengobatan alternatif China ini juga bisa membantu pria dengan masalah ejakulasi dini atau suatu kondisi ketidakmampuan mengontrol ejakulasi.

Ejakulasi terjadi dalam waktu yang singkat, dengan rangsangan minimal, dan terjadi sebelum diinginkan. Ketika pasangan berhubungan intim, sang pria keluar dengan sangat cepat. Bisa jadi, dalam dua detik sudah terjadi ejakulasi.

Para peneliti di Inggris juga menyimpulkan berbagai pengobatan alternatif lain seperti obat herbal China, obat herbal Ayurvedic dan krim topikal Korea juga memiliki manfaat yang sama seperti akupuntur.

Para ahli mengklaim temuan ini bisa membantu para kaum Adam, yang mungkin saja malu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan viagra.

"Sangat penting untuk mengevaluasi bukti dari terapi pengobatan alternatif," kata pemimpin dan penulis studi, Katy Cooper dari University of Sheffield dilansir Daily Mail.

"Untuk pengetahuan kami, ini adalah review sistematis pertama untuk menilai pengobatan komplementer dan alternatif untuk mengatasi ejakulasi dini."

Katy pun mengatakan, sebenarnya, ada berbagai perawatan yang tersedia untuk mengatasi masalah ejakulasi dini, termasuk perawatan dengan obat, teknik perilaku dan konseling.

Namun, beberapa orang mungkin tidak ingin mengunjungi dokter, minum obat jangka panjang atau berada di daftar tunggu yang panjang untuk konseling.

Dalam penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal Sexual Medicine, para peneliti mengevaluasi 10 percobaan terkontrol secara acak yang termasuk membandingkan percobaan dengan obat herbal China, herbal Ayuverdic, akupuntur, dan krim topikal dari Korea.

Dari penelitian ini, dua studi akupuntur menemukan bahwa pengobatan ini bisa membuat ejakulasi lebih lama setengah menit dibandingkan dengan plasebo.

Obat herbal China pun diketahui mampu meningkatkan durasi ejakulasi diukur dengan metode medis untuk menentukan apakah seseorang mengalami ejakulasi dini disebut intravaginal ejaculatory latency time (IELT). Metode tersebut menggunakan sebuah stopwatch untuk menghitung durasi dari awal terjadinya penetrasi hingga ejakulasi.

Dan setelah diukur dengan alat ini, mereka yang mengonsumsi obat China mampu mempertahankan ereksi lebih dari satu menit.

Para peneliti pun mengungkap, ada banyak hal yang menyebabkan pria mengalami ejakulasi dini. Salah satu penyebabnya, karena pengalaman seksual dini yang buruk. Bisa juga ejakulasi dini ini disebabkan oleh beberapa penyakit seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi atau minum berlebihan. Stres dan depresi juga bisa jadi penyebabnya.

Jika Anda khawatir, berkonsultasi dengan dokter, yang mungkin meresepkan dapoxetine (anti-depresan ringan), Anda bisa menempuh jalan kombinasi, memilih pengobatan tradisional dan alternatif yang paling efektif. Meski begitu, tetap harus hati-hati karena pengobatan untuk mengatasi masalah disfungsi ereksi dan ejakulasi dini sebenarnya butuh proses yang panjang.

"Tidak ada pengobatan yang disetujui untuk mengatasi ejakulasi dini," kata Donald Patrick, wakil ketua untuk penelitian di University of Washington di Seattle.

"Ini adalah kondisi umum yang memiliki efek psikologis yang serius pada hubungan," kata Patrick, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Kita perlu perawatan untuk mengatasi hal itu, dan itu harus ditangani dengan keseriusan yang sama seperti disfungsi ereksi."

Prevalensi ejakulasi dini sulit diukur, karena kebanyakan pria enggan melaporkan masalah kejantanan yang dialaminya. Namun yang pasti, banyak penelitian melaporkan pria merasa frustrasi, depresi dan cemas karena masalah ini.