Buku KIA, Cara Efektif Jaga Kesehatan Ibu dan Anak

Workshop Advokasi Pemanfaatan Buku KIA untuk Kesehatan Ibu, Anak dan Gizi
Sumber :
  • VIVA/ Diza Liane Syahputri

VIVA –  Kementerian Kesehatan menetapkan bahwa buku kesehatan ibu dan anak (Buku KIA) menjadi satu-satunya alat pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi yang dilahirkan berusia 5 tahun. Buku ini, juga berisi catatan pelayanan imunisasi, gizi, tumbuh kembang anak dan program keluarga berencana pasangan suami istri.

"Secara garis besar, terdapat dua elemen penting dari Buku KIA, yaitu media informasi dan media pencatatan (monitoring) di keluarga atau masyarakat. Kedua elemen ini efektif memberi perubahan perilaku ibu dan anak yang berujung pada kestabilan kesehatan," ujar Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari, MQIH, dalam konferensi pers di Kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu, 19 September 2018.

Kirana mengatakan, kebijakan Buku KlA telah lama ditetapkan. Namun hingga saat ini, komitmen dalam pemanfaatannya di masyarakat masih belum sesuai harapan. Sehingga perlu penguatan terutama kelengkapan pengisiannya oleh petugas kesehatan, kader dan orangtua.

"Buku KIA sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan Ibu dan anak, karena berisi informasi kesehatan, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan meliputi imunisasi, gizi seimbang dan Vitamin A," ujar Kirana.

Data survei kesehatan nasional (Sirkesnas 2016) menunjukkan sebanyak 81,5 persen ibu hamil menyatakan memiliki Buku KIA, namun hanya 60,5 persen di antaranya yang bisa menunjukkan buku KIA. Tahun 2016, Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan melakukan monitoring terkait pemanfaatan buku KIA di 9 Kabupaten Kota yang menunjukkan hanya 18 persen yang diisi lengkap dengan tingkat keterisian paling banyak pada pelayanan kesehatan masa kehamilan dan bayi baru lahir.

Hasil analisis data Riskesdas 2013 dan Sirkesnas 2016 menunjukkan terdapat keterkaitan antara kepemilikan Buku KIA dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ibu yang memiliki buku KIA lebih sering melakukan pemeriksaan kehamilan, lebih banyak bersalin dengan pertolongan tenaga kesehatan dan lebih banyak bersalin di fasilitas kesehatan dibandingkan ibu yang tidak memiliki Buku KIA.

Sementara itu, bayi dari ibu yang memiliki Buku KIA juga lebih banyak mendapat imunisasi dasar lengkap daripada bayi dari ibu yang tidak memiliki Buku KIA. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Buku KIA berdampak positif pada perubahan perilaku ibu.